![]()
cerita misteri
Ini adalah kisah pengalamanku
ketika masih aktif kuliah di salah satu Universitas di Jogja dan masih teringat
jelas cerita itu yang ngeri jika diceritakan. Di barat pasar ngasem Jogja,
terdapat sebuah kampus swasta yang dikelola oleh yayasan kraton Yogyakarta. Banyak
yang menjuluki kampus itu adalah “kampus sawo kecik”, karena terdapat pohon
sawo kecik yang besar sebagai salah satu ciri khas kampus itu. Kampus itu
menempati bekas nDalem Mangkubumen yang konon nDalem Mangkubumen pada awalnya
ditujukan sebagai kediaman Putra Mahkota Kesultanan Yogyakarta. Penghuni
pertama bangunan ini adalah putra Sultan Hamengku Buwono VI, yakni Gusti
Pangeran Haryo Hangabehi yang bergelar Pangeran Adipati Anom, yang kelak naik
tahta pada 1877 menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.
Sekitar 8 tahun silam di tahun 2014 aku masih menjadi mahasiswa aktif di kampus tersebut, mahasiswa prodi teknik arsitektur non reguler atau kelas sore. Aku memilih jalur non reguler karena kuliah sambil kerja, sehingga pagi aku bisa ngantor dan sore selepas kerja bisa berangkat kuliah. Jam aktif perkuliahan kelas sore pukul 15.30 WIB dan diakhiri hingga malam hari biasanya sampai jam 20.00 WIB, namun terkadang ketika bersama dosen yang asik bisa sampai larut malam. Jika malam hari lingkungan sekitar kampus, di jalan polowijan kondisinya ramai manusia, ada penjual angkringan yang sering menjadi tempat makan kami sesama mahasiswa untuk makan nasi kucing dan teh anget sekedar pengganjal perut sebelum kami masuk ke jam perkuliahan.
.jpg)
Thread horor
Aku termasuk mahasiswa yang kata
teman-teman paling rajin masuk kuliah pada waktu itu. Biasanya sejak jam 3 sore
aku sudah berangkat menuju kampus, untuk bisa bersantai terlebih dahulu,
merokok sembari menikmati suasana kampus yang kental nuansa arsitektur jawanya.
Di kampus ada sosok pria paruh baya yang sering aku jumpai sebelum jam
perkuliahan dimulai, beliau adalah pak Robi satpam kampus di sana. Banyak hal
yang sering diperbincangkan oleh kami, namun lebih sering tentang sejarah
kampus dan cerita-cerita mengenai ke-Jawa-an di seputaran Kraton Yogyakarta.
Beliau mahir dalam bercerita sehingga aku lebih banyak mendengarkan.
“Lingkungan nDalem Mangkubumen
ini dahulu pernah menjadi kampus UGM pertama mas” Cerita beliau mengawali.
“ Loh, UGM pak?” Tanyaku.
“ Iya mas, tahun 1949, Ngarsa
Dalem meminjamkan nDalem Mangkubumen ini sebagai tempat Fakultas Kedokteran.
Dahulu rumah sakit yang menjadi tempat praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran
juga di sini, dan nantinya menjadi cikal bakal Rumah Sakit dr. Sardjito itu.”lanjut
beliau menjelaskan.
Beliau lalu melanjutkan cerita
kalau dahulu bagian belakang atau sebelah utara dari ruang kelas yang aku pakai
adalah ruang mayat untuk praktek mahasiswa kedokteran. Mayat tersebut
diformalin supaya awet dan bisa di pakai
untuk praktek outopsi investigasi
medis jenazah untuk memeriksa sebab kematian. Beliau kembali menceritakan jika
mayat yang sudah diberi formalin kondisi kulitnya alot, kenyal seperti karet. Untuk
praktek mahasiswa, mayat tersebut dibersihkan dahulu dari formalin. Mayat
dibedah dan dipakai untuk bahan praktek perkuliahan merupakan hal yang biasa dilakukan
mahasiswa kedokteran untuk belajar ilmu outopsi. Mendengarkan cerita beliau aku
agaknya menjadi sedikit was-was bagaimana tidak? Aku jadi teringat pernah
mengalami kejadian di luar nalar ketika aku lembur mengerjakan tukas kuliah di
kelas, sendirian dan tanpa ditemani oleh teman kuliahku.
Di waktu itu kegiatan lembur mengerjakan tugas kampus di kelas arsitektur diperbolehkan oleh pihak kampus dan menjadi agenda rutin bagi kami mahasiswa kelas sore. Sesekali memang kelas pagi juga ikut gabung untuk lembur mengerjakan tugas sampai malam.
TEROR MAHKLUK HALUS DI DALAM KELAS
Waktu itu jam 9 malam aku masih
giat menyelesaikan tugas kuliah di dalam kelas, karena tembok sisi luar kelasku
adalah jalan sehingga aku merasa aman karena ada suara motor dan ada suara
orang orang yang sedang jajan di warung angkringan simbok. Angkringan simbok
adalah istilah angringan yang berada di luar gapura masuk kampus kami, karena
pemiliknya merupakan simbok-simbok alias ibu-ibu tua. Beranjak pukul 11 malam
warung simbok mulai sepi dan agaknya hendak tutup. Sebelum benar-benar tutup, tak
lupa aku pesan kopi hitam dan beberapa cemilan dahulu untuk menemani lemburku
malam itu. Suasana pun menjadi sedikit sepi dan benar-benar sepi. Namun ada kopi,
rokok dan cemilan ditambah playlist musik sudah cukup bagiku untuk menemani
lemburku malam itu, nyaman seperti rumah sendiri.
Beranjak pukul 2 pagi, aku masih
setia mengerjakan tugas kampus. Anehnya suasana waktu itu hening sekali, malam
begitu senyap tak ada suara apapun, bahkan suara motor lewatpun tidak ada,
rasanya waktu seperti berhenti, sungguh sangat hening. Sesekali aku mematikan
musik dan aku rasakan betul suasana itu. Aku lanjutkan tugasku di malam
menjelang pagi itu dengan perasaan yang was-was. (Grek,grek,grek... pyoh..... Grek,grek,grek...
pyoh.....)Tiba-tiba aku mendengar suara muncul, sayup-sayup dan lama kelamaan
terdengar sedikit jelas. Suara seperti berasal dari bekas ruang mayat yang
diceritakan pak Robi itu. Dan suara itu membuat merinding seluruh tubuhku. Seperti
suara orang sedang membedah mayat. Jelas terdengar suara gergaji dan suara
darah muncrat. Batinku berkata,“ikikan
jam 2 esuk, suara apa ya? (inikan
jam 2 pagi, suara apa ya?), dan tak ada suara lain selain suara yang berasal
dari bekas ruang mayat itu.
Aku memberanikan diri untuk
bangkit dari kursiku dan mendekat ke arah sumber suara. Tak ada orang memang
jam segitu, dan hanya aku sendirian di kelas. Langkahku berhenti seketika di
selasar ruang kelasku. “loh suarane kok ilang?”
(loh suaranya kok hilang), batinku. Benar saja suara itu tiba-tiba hilang.
Kemudian aku kembali ke dalam kelas dan duduk. Headset aku pasang pada
telingaku dan aku putar kembali musik untuk memecah kegamanganku itu. Belum
sempat aku kembali menyalakan rokok, suara itu muncul meneror kembali, dan
rasanya semakin keras masuk menembus headset di telingaku. . (Grek,grek,grek...
pyoh..... Grek,grek,grek... pyoh.....). Seperti suara orang sedang membedah
mayat lagi. Malam itu seperti malam
teror bagiku, karena hanya aku sendiri di sana. Merinding langsung terasa pada
diriku.
Aku tetap putuskan untuk berdiri
dan melawan rasa takut untuk menyelidiki sumber suara. Sesampainya di selasar
tiba-tiba suara itu kembali lenyap dan mucul aroma bau yang busuk, menyengat
masuk dalam hidungku. “aduh, mambu opo
meneh iki” (aduh, bau apalagi ini). Aku
mencium bau yang busuk menyengat membuat diriku sungguh tidak kuat dan aku
menghindari tempat itu lalu pergi ke toilet untuk buang air kecil dan cuci
muka. Selesai urusanku dari toilet aku kembali menuju dalam kelas dan
menghiraukan suara-suara itu, namun di perjalananku melewati selasar menuju
kelas aku dikejutkan dengan bau wangi. Aku kenal dengan aroma ini, bau kembang
melati. Bulu kuduk seketika berdiri, merinding sekali. “weh, kok malah dadi mambu melati to iki” (weh, kok jadi bau bunga
melati sih ini). Seketika aku lari
secepat-cepatnya masuk kelas dan membereskan laptop dan pergi untuk pulang ke
rumah saat itu juga. Tak perduli jam berapa saat itu, yang penting secepat
mungkin keluar dari area itu dan pulang, tidur.
Hal itu juga kemudian aku
ceritakan kepada pak Robi, untuk bisa memberi jawaban atas peristiwa kala itu.
“oh, ndak papa mas, aku juga
pernah mendengar suara itu, paling-paling aku cuma menjawabnya dalam hati,
mungkin yang tak kasat mata atau mahkluk halus penghuni kampus ini sedang ada
gawe”, jelas pak Robi.
“Besok lagi mungkin kalau lembur
jangan sendirian mas, paling tidak minimal bertiga”, lanjut pak robi
melengkapi. “nggih pak”, jawabku.
“Mereka sebetulnya hanya ingin
menunjukan kalau mereka itu ada”, kembali pak robi memberi penjelasan.
Sejak saat itu aku selalu
mengajak teman ketika hendak lembur di kampus. Aku sering lembur di kampus dikarenakan
tidak mau membawa beban tugas kuliah di rumah atau di kantor saat aku bekerja.
Itulah perjuangan kami kelas sore saat itu. Menurut kabar saat ini kampus sudah
tidak memperbolehkan mahasiswa untuk lembur lagi di kelas saat malam hari.
Entah kenapa? Mungkin untuk menjaga agar semuanya kondusif dan aman.