Rabu, 05 Oktober 2022

CERITA DIBALIK KAMPUS SAWO KECIK

cerita misteri


Ini adalah kisah pengalamanku ketika masih aktif kuliah di salah satu Universitas di Jogja dan masih teringat jelas cerita itu yang ngeri jika diceritakan. Di barat pasar ngasem Jogja, terdapat sebuah kampus swasta yang dikelola oleh yayasan kraton Yogyakarta. Banyak yang menjuluki kampus itu adalah “kampus sawo kecik”, karena terdapat pohon sawo kecik yang besar sebagai salah satu ciri khas kampus itu. Kampus itu menempati bekas nDalem Mangkubumen yang konon nDalem Mangkubumen pada awalnya ditujukan sebagai kediaman Putra Mahkota Kesultanan Yogyakarta. Penghuni pertama bangunan ini adalah putra Sultan Hamengku Buwono VI, yakni Gusti Pangeran Haryo Hangabehi yang bergelar Pangeran Adipati Anom, yang kelak naik tahta pada 1877 menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.

Sekitar 8 tahun silam di tahun 2014 aku masih menjadi mahasiswa aktif di kampus tersebut, mahasiswa prodi teknik arsitektur non reguler atau kelas sore. Aku memilih jalur non reguler karena kuliah sambil kerja, sehingga pagi aku bisa ngantor dan sore selepas kerja bisa berangkat kuliah. Jam aktif perkuliahan kelas sore pukul 15.30 WIB dan diakhiri hingga malam hari biasanya sampai jam 20.00 WIB, namun terkadang ketika bersama dosen yang asik bisa sampai larut malam. Jika malam hari lingkungan sekitar kampus, di jalan polowijan kondisinya ramai manusia, ada penjual angkringan yang sering menjadi tempat makan kami sesama mahasiswa untuk makan nasi kucing dan teh anget sekedar pengganjal perut sebelum kami masuk ke jam perkuliahan.



Thread horor

Aku termasuk mahasiswa yang kata teman-teman paling rajin masuk kuliah pada waktu itu. Biasanya sejak jam 3 sore aku sudah berangkat menuju kampus, untuk bisa bersantai terlebih dahulu, merokok sembari menikmati suasana kampus yang kental nuansa arsitektur jawanya. Di kampus ada sosok pria paruh baya yang sering aku jumpai sebelum jam perkuliahan dimulai, beliau adalah pak Robi satpam kampus di sana. Banyak hal yang sering diperbincangkan oleh kami, namun lebih sering tentang sejarah kampus dan cerita-cerita mengenai ke-Jawa-an di seputaran Kraton Yogyakarta. Beliau mahir dalam bercerita sehingga aku lebih banyak mendengarkan.

“Lingkungan nDalem Mangkubumen ini dahulu pernah menjadi kampus UGM pertama mas” Cerita beliau mengawali.

“ Loh, UGM pak?” Tanyaku.

“ Iya mas, tahun 1949, Ngarsa Dalem meminjamkan nDalem Mangkubumen ini sebagai tempat Fakultas Kedokteran. Dahulu rumah sakit yang menjadi tempat praktik mahasiswa Fakultas Kedokteran juga di sini, dan nantinya menjadi cikal bakal Rumah Sakit dr. Sardjito itu.”lanjut beliau menjelaskan.

Beliau lalu melanjutkan cerita kalau dahulu bagian belakang atau sebelah utara dari ruang kelas yang aku pakai adalah ruang mayat untuk praktek mahasiswa kedokteran. Mayat tersebut diformalin supaya awet  dan bisa di pakai untuk praktek outopsi  investigasi medis jenazah untuk memeriksa sebab kematian. Beliau kembali menceritakan jika mayat yang sudah diberi formalin kondisi kulitnya alot, kenyal seperti karet. Untuk praktek mahasiswa, mayat tersebut dibersihkan dahulu dari formalin. Mayat dibedah dan dipakai untuk bahan praktek perkuliahan merupakan hal yang biasa dilakukan mahasiswa kedokteran untuk belajar ilmu outopsi. Mendengarkan cerita beliau aku agaknya menjadi sedikit was-was bagaimana tidak? Aku jadi teringat pernah mengalami kejadian di luar nalar ketika aku lembur mengerjakan tukas kuliah di kelas, sendirian dan tanpa ditemani oleh teman kuliahku.

Di waktu itu kegiatan lembur mengerjakan tugas kampus di kelas arsitektur diperbolehkan oleh pihak kampus dan menjadi agenda rutin bagi kami mahasiswa kelas sore. Sesekali memang kelas pagi juga ikut gabung untuk lembur mengerjakan tugas sampai malam.


TEROR MAHKLUK HALUS DI DALAM KELAS

Waktu itu jam 9 malam aku masih giat menyelesaikan tugas kuliah di dalam kelas, karena tembok sisi luar kelasku adalah jalan sehingga aku merasa aman karena ada suara motor dan ada suara orang orang yang sedang jajan di warung angkringan simbok. Angkringan simbok adalah istilah angringan yang berada di luar gapura masuk kampus kami, karena pemiliknya merupakan simbok-simbok alias ibu-ibu tua. Beranjak pukul 11 malam warung simbok mulai sepi dan agaknya hendak tutup. Sebelum benar-benar tutup, tak lupa aku pesan kopi hitam dan beberapa cemilan dahulu untuk menemani lemburku malam itu. Suasana pun menjadi sedikit sepi dan benar-benar sepi. Namun ada kopi, rokok dan cemilan ditambah playlist musik sudah cukup bagiku untuk menemani lemburku malam itu, nyaman seperti rumah sendiri.

Beranjak pukul 2 pagi, aku masih setia mengerjakan tugas kampus. Anehnya suasana waktu itu hening sekali, malam begitu senyap tak ada suara apapun, bahkan suara motor lewatpun tidak ada, rasanya waktu seperti berhenti, sungguh sangat hening. Sesekali aku mematikan musik dan aku rasakan betul suasana itu. Aku lanjutkan tugasku di malam menjelang pagi itu dengan perasaan yang was-was. (Grek,grek,grek... pyoh..... Grek,grek,grek... pyoh.....)Tiba-tiba aku mendengar suara muncul, sayup-sayup dan lama kelamaan terdengar sedikit jelas. Suara seperti berasal dari bekas ruang mayat yang diceritakan pak Robi itu. Dan suara itu membuat merinding seluruh tubuhku. Seperti suara orang sedang membedah mayat. Jelas terdengar suara gergaji dan suara darah muncrat. Batinku berkata,“ikikan jam 2 esuk, suara apa ya? (inikan jam 2 pagi, suara apa ya?), dan tak ada suara lain selain suara yang berasal dari bekas ruang mayat itu.

Aku memberanikan diri untuk bangkit dari kursiku dan mendekat ke arah sumber suara. Tak ada orang memang jam segitu, dan hanya aku sendirian di kelas. Langkahku berhenti seketika di selasar ruang kelasku. “loh suarane kok ilang?” (loh suaranya kok hilang), batinku. Benar saja suara itu tiba-tiba hilang. Kemudian aku kembali ke dalam kelas dan duduk. Headset aku pasang pada telingaku dan aku putar kembali musik untuk memecah kegamanganku itu. Belum sempat aku kembali menyalakan rokok, suara itu muncul meneror kembali, dan rasanya semakin keras masuk menembus headset di telingaku. . (Grek,grek,grek... pyoh..... Grek,grek,grek... pyoh.....). Seperti suara orang sedang membedah mayat lagi.  Malam itu seperti malam teror bagiku, karena hanya aku sendiri di sana. Merinding langsung terasa pada diriku.

Aku tetap putuskan untuk berdiri dan melawan rasa takut untuk menyelidiki sumber suara. Sesampainya di selasar tiba-tiba suara itu kembali lenyap dan mucul aroma bau yang busuk, menyengat masuk dalam hidungku. “aduh, mambu opo meneh iki” (aduh, bau apalagi ini). Aku mencium bau yang busuk menyengat membuat diriku sungguh tidak kuat dan aku menghindari tempat itu lalu pergi ke toilet untuk buang air kecil dan cuci muka. Selesai urusanku dari toilet aku kembali menuju dalam kelas dan menghiraukan suara-suara itu, namun di perjalananku melewati selasar menuju kelas aku dikejutkan dengan bau wangi. Aku kenal dengan aroma ini, bau kembang melati. Bulu kuduk seketika berdiri, merinding sekali. “weh, kok malah dadi mambu melati to iki” (weh, kok jadi bau bunga melati sih ini). Seketika aku lari secepat-cepatnya masuk kelas dan membereskan laptop dan pergi untuk pulang ke rumah saat itu juga. Tak perduli jam berapa saat itu, yang penting secepat mungkin keluar dari area itu dan pulang, tidur.

Hal itu juga kemudian aku ceritakan kepada pak Robi, untuk bisa memberi jawaban atas peristiwa kala itu.

“oh, ndak papa mas, aku juga pernah mendengar suara itu, paling-paling aku cuma menjawabnya dalam hati, mungkin yang tak kasat mata atau mahkluk halus penghuni kampus ini sedang ada gawe”, jelas pak Robi.

“Besok lagi mungkin kalau lembur jangan sendirian mas, paling tidak minimal bertiga”, lanjut pak robi melengkapi. “nggih pak”, jawabku.

“Mereka sebetulnya hanya ingin menunjukan kalau mereka itu ada”, kembali pak robi memberi penjelasan.

Sejak saat itu aku selalu mengajak teman ketika hendak lembur di kampus. Aku sering lembur di kampus dikarenakan tidak mau membawa beban tugas kuliah di rumah atau di kantor saat aku bekerja. Itulah perjuangan kami kelas sore saat itu. Menurut kabar saat ini kampus sudah tidak memperbolehkan mahasiswa untuk lembur lagi di kelas saat malam hari. Entah kenapa? Mungkin untuk menjaga agar semuanya kondusif dan aman.

 

 

 


0 komentar:

Posting Komentar