Pertanda apakah falsafah hidupku? mimpi atau hal yang nyata? tersentak aku mendengar kalimat tanya dan ungkapan sinis dari mulut itu. seperti menusuk perasaan yang tadinya bertahan menjadi tertahan. Lupakan urusan orang lain, kau menganggap orang lain mati tak punya ambisi dan perasaan. Lidah sudah keluar dan tangan mulai menulis dan aku membaca.
Tuhan, dengan sekejap mata aku tergores oleh cacian dan sindirannya,.dan luka ini sangat terasa sakit. Obat apa yang bisa menyembuhkan sakit ini ya Tuhan,.? Aku ingin merubah pandangan yang tidak biasa, tapi dunia memalingkan wajahnya, selalu seperti itu. Apakah aku harus tertunduk, muntah dan mengumpat, sumpah serapah pada otakku? Lidah kupotong agar aku diam dan tidak membalas apa yang dia sindirkan.
Seperti sore tadi, lalu luntas pikiranku terhambat dan tertilang oleh kalimat yang selalu subyektif. Aku benci subyektif aku tidak suka memasang dan menkotak-kotakkan konsep yang dibuat oleh instansi. Dan aku benci instansi yang mencetak lulusan keledai. semua hanyalah ilmu basi, semakin dikonsumsi semakin berpenyakit.
Dia bilang orang sepertiku hanya mencari pangkat? padahal 1 detikpun aku belum bisa mendefinisikan apa itu pangkat, bagaimana aku bisa mencari pangkat? tolol, itu yang aku maksud dengan keledai. hanya bisa makan tapi sangat bodoh.
Hidup itu bukan soal pangkat dan uang. apa kamu lupa dengan konsep bersyukur?manusia punya akal dan pikiran kenapa hanya nafsu yang menjadi tujuan?aku gak tahu lagi harus menulis apa, Ya Tuhan maafkan aku jika selama ini masih menjadi tersesat.
Kamis, 14 Maret 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar