Sore itu aku pergi ke kampus yang berada di Ndalem Mangkubumen. Sekitar pukul 4 sore
aku tiba di sana. Aku berhenti di bawah pohon talok untuk memarkirkan motorku. Tujuan aku ke kampus untuk menemui
temanku yang sebelumnya memang sudah janji mau ketemu disini.
Sembari menunggu temanku yang belum datang,
aku duduk-duduk dibawah pohon talok dan
ngobrol-ngobrol dengan Pak Robi yang memang dari tadi sudah duluan duduk di
situ. “pak, pripun pawartosipun? Sae? (
Pak, bagaimana kabarnya? Baik? ). “Nggih
niki sae..( (iya, saya kabarnya baik). Pak robi ini adalah penjaga kampus
sekaligus tukang resek-resik. Baru
saja dia menyapu daun-daun lalok yang gugur.
Kami mengobrol soal keseharian, dan sangat
umum. Obrolan kami sangat asik. Aku lebih suka mendengarkan Pak Robi cerita
karena ceritanya sangat bermakna dan berbau sejarah dan budaya. Pak Robi boleh
hanya tukang sapu tapi pengetahuannya tentang sejarah dan budaya apalagi berbau
kraton sangat luas. Makaya aku seperti sedang kuliah kalau ngobrol bersama dia.
Hingga Pak Robi mulai bercerita kalau waktu
Bulan puasa kemarin masjid Kadipaten didatangi oleh 8 orang alkacong / aliran kathok congklang (
alirang celana congklang ). 8 orang ini berasal dari pesantren jawa barat,
tepatnya kurang begitu tahu. Dan mereka menetap sementara di masjid kadipaten
untuk mengajarkan agama islam. Sebelumnya mereka suda mengantongi ijin dari
berbagai pihak hingga akhirnya diperbolehkan oleh takmir masjid untuk menetap
sementara di masjid.
***
Hari pertama, kedua, ketiga ceramah mereka
masih masuk akal alias masih sama dengan pemahaman jamaah masjid. Namun di hari
berikutnya mereka mulai berubah dan tegas dan mengharam-haramkan sesuatu yang
dilakukan oleh jamaah. Pertama mereka melarang membunyikan beduk tanda
akan adzan mahgrib dan buka puasa.
Alasanya tidak ada tuntunannya dalam islam. “ apa itu!! tidak ada tuntunannya
dalam islam membunyikan beduk.!! Teriak salah seorang alkacong. “ Mas, memang dalam islam tidak ada tuntunannya tapi
sejak dahulu membunyikan beduk sebelum adzan mahgrib sudah merupakan tradisi
kami orang jawa dan itu merupakan budaya.” Salah satu jamaah menjelaskanya.
Namun 8 alkacong itu tetap mengharam-haramkan.
Dihari ke tujuh mereka menghujat jamaah yang
bersalaman seusai solat. “ apa itu!! tidak ada tuntunannya dalam islam
bersalaman seusai solat!! Teriak salah seorang alkacong. Kembali jamaah menjelaskan bahwa ini hanyalah tradisi
dari kami dan ini bukanlah tindakan yang jelek. Urusan amal diterima dan tidak
itu urusan Allah. Yang penting kita tidak merugikan orang lain. “ Apa bapak
yakin kalau solat bapak diterima Allah?” Tanya Alkacong. “ Ya, kalau menurut
saya pasti diterima.” Jawab jamaah. “Tidak, solat bapak tidak akan diterima.
Bapak ke masjid tahu nggak kalau masih suci? Harusnya bapak menggunakan pakaian
seperti ini. Celana seperti ini.” Menunjukkan stelan pakaiannya.
Wargapun kemudian berembuk dan membuat
keputusan kalau 8 alkacong itu harus segera angkat kaki dari masjid Kadipaten
karena terlalu meresahkan para jamaah. Akhirnya Pak Takmir masjid menegaskan
kepada para alkacong agar segera meninggalkan masjid kadipaten, karena jika
tidak pergi Pak Takmir tidak menanggung reaksi apa yang terjadi dari masyarakat
dan jamaah masjid Kadipaten. Akhirnya 8 alkacong itupun pergi meninggalkang
masjid kadipaten.
***
Aku mendengar cerita dari Pak Robi jadi
berpikir kok cerita seperti ini masih saja terus berulang. Ada alirang yang
keras dengan ajaranya padahal sama-sama Islam? Tapi mana rahmatan
lil 'alamin-nya?
Pak Robi kembali bercerita,” mas, dalu
waktu seperti ini ngobrol-ngorol tentang agama, malamnya aku duduk sendiri
disini tapi masih teringat cerita tadi pagi lalu bertanya sendiri. Agama asli
kita itu apa sih? Semua agama itu import semua. Lalu agama asli milik kita itu
apa?
Waduh, aku berpikir sejenak, iya juga ya,?
Lalu aku mengucap,” emm,. Setahu saya sebelu agama Hindu dan Budha mulai menjadi
agama kepercayaan di Jawa, Masyarakat jawa sudah mengenal Tuhan yang disebut sebagai
“Sang Yang Tunggal”. Kemudian Pak Robi pun segera menjawab “Itu namanya kepercayaan
mas,.bukan agama. Itu kepercayaan dalam konsep keTuhannan. Kalau itu saya tahu,
bahwa leluhur kita itu sudah mengerti bahwa Tuhan itu satu “sang yang tunggal”.
Tapi itu bukan agama. “iya,.ya,.bener juga? Jawabku.
“ Jadi mas, masyarakat jawa itu yang di
sebut- sebut sebagai kejawen yang diharam-haramkan
dan dinilai oleh sebagian umat muslim kita sebagai musrik,.itu bukan agama. Makanya
sampai sekarang masyarakat masih berprasangka salah dengan kejawen. Kita itu agamanya Islam tulen asli,.tapi karena kecintaan kami
terhadap leluhur kami dengan segala ritualnya,.ya kami lakukan. Karena sudah saya
bilang itu bukan agama,.tapi hanyalah murni unsur tradisi dan kebudayaan. Kami tetap
menjalankan syariat Islam sesuai perinta Agama, namun apa salah kami mencintai tradisi
kami? Budaya kami? Selama niat kami itu benar seperti yang saya sampaikan tadi,
gak ada masalah!! Agama juga tidak melarang!! Semua amal itu kan sesuai dengan ilmu
dan niatnya. Allah kan sudah mentakdirkan kita sebagai orang Jawa, bukan orang Arab..maka
jelas kita disuruh menjadi orang jawa. Jangan meng arab-arabkan orang Jawa. Lah,.mana
lita'arafu nya, untuk saling mengenal. Lah,. rahmatan
lil 'alamin-nya?
Pernyataan Pak Robi membuka lebih luas
tentang pandanganku yang sempit selama ini. Memang kalau rahmatan lil 'alamin
itu harus diartikan
luas dan menjangkau segala lapisan masyarakat. Dan memang tradisi itu dimiliki oleh
setiap suku-suku yang ada di dunia ini, selama tradisi dan budaya itu tidak melanggar
syariat agama maka tidak menjadi persoalan. Karena semua hasil akhir menjadi urusan
Allah.