Kamis, 29 Agustus 2013

MY ADVENTURE IS 'HUTANG'

Ini dunia sudah aneh. Kita gak punya uang di paksa untuk membeli! dan waktu punya uang malah disuruh utang!  Udah keblinger menungsane kalau caranya seperti ini. Saya jadi teringat ramalan Jayabaya ‘Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman’. Kenyataanya memang demikian. Ini pengalamanku sendiri ketika saya akan membeli pulsa 10 ribu dengan harga 11 ribu, waktu itu saya bayar dengan uang 12 ribu tapi bakulnya gak mau terima uang yang 2 ribunya dan hanya mengambil uang yang 10 ribu saja, alasanya “ wah mas, gak ada kembalian seribu”. Dengan alasan gak punya kembalian yang hanya barang seribu perak dia dengan seenaknya memaksa aku untuk utang seribu. Ini piye to ? ini aku ada uang, malahan lebih? tapi malah dipaksa utang? Asu..!!!
Masya Allah, kok ya jadi begini to jadinya? “Indonesia,,,Indonesia” bangsamu kok jadi bangsa yang seenak udele dewe. Serasa sudah umum dan memang begitu adanya sekarang ini. Lah, ini masalah sepele, coba kalau malasah ini jadi kebiasaan dan dilakukan dimana-mana. Suatu ketika misalnya ingin beli motor, dan saya punya uang pas dan cukup untuk beli secara kontan. Tapi pihak dealernya bersikeras untuk menjual motornya secara kredit. Kan podo le asu to?
Kalau kita cermati memang dijaman sekarang ini manusia dipaksa untuk terbiasa berhutang. Berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang seribu untuk beli rokok 1 batang, berhutang untuk bayar hutang, berhutang kreditan motor, mobil, rumah bahkan sekarang ada arisan simpan pinjam alias ngutangke. Artinya kita dididik secara sosial untuk terbiasa berhutang. Ya memang kalau benar-benar gak punya uang sepeserpun harus utang. Tapi kalau punya uang tapi karena sudah terbiasa hutang atau dihutangi ya utang lagi. Pokoknya tiada hidup tanpa utang. ‘Life is utang’ atauMy adventure is utang’.
Ini tiadak masalh sih sebenarnya, selama sanggup untuk membayarnya. Tapi kalau jadi kebiasaan juga,..Masalahnya gini hutang itu sebenarnya termasuk janji. Karena berfaham dari “janji adalah hutang” maka jelas bahwa hujang itu adalah janji, maka janji jelas harus ditepati. Karena kalau tidak ditepati akan terus-terusan ditagih. Tidak hanya di dunia pertanggungjawabanya, tapi juga di akhirat dan kepada Tuhan. Makanya ini menjadi masalah serius sebenarnya, kalau kita semua paham dan mau memahami.

Rabu, 28 Agustus 2013

MADURA YANG 'JAWA' DAN 'MALAIKATAN'

Di kampungku ada orang Madura yang sangat rajin solat ke masjid. Beliau bernama Zainudin, panggil saja Pak Udin. Seringnya dia ke masjid dan bersosial dengan masyarakat akhirnya membuat dia menjadi orang yang disegani. Di masjid dia di ‘dapuk’ menjadi imam tetap masjid kecuali beliau berhalangan, misalkan sakit atau ada urusan yang tidak bisa ditunda. Dia tidak seperti orang Madura yang konon seperti ‘itu’, tapi beliau sangat sopan dan lembut dalam tutur katanya.
Saya berpikir dia itu orang jawa yang berlogat menyamar jadi orang Madura. Tetapi logatnya itu terlihat bahwa dia Madura tulen, tapi sikapnya dan prilakunya juga Jawa sekali. Kecurigaan saya bukan tanpa alasan, karena orang Madura terkenal dengan sikap yang keras dan tegas serta berani, sedangkan Pak Udin hanya logatnya saja yang Madura walaupun kalau berbahasa dia selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Hari ini dia tidak ke masjid untuk ibadah solat mahgrib. Dan aku kemudian diajak oleh tiga orang temanku untuk menjenguk beliau. Sebelumnya aku cuek dengan Pak Udin, mau dia ke masjid ataupun tidak bukan urusanku. Dan aku juga tidak tahu kalau beliau sekarang sedang sedang sakit.
*****
Akhirnya aku dan ketiga temanku mendatangi rumah Pak Udin untuk menjenguknya. Beliau hanya seorang pendatang dan saya tahu kalau dia hanya ngontrak di kampungku. Sesampainya kita di kontrakan beliau, pas di depan rumahnya sebelum masuk melihat ke dalam rumah, terlihat laki-laki yang terbaring lemah di bawah, di atas kasur yang sudah kempes, dialah Pak Udin.
 “Assalamualaikum”salam kami ucapkan. “ Waalaikumusalam, Oo,..mari sini mas masuk. Aduh tempatnya kotor ya,.” Istri Pak Udin menjawabnya dengan tambahan basa-basi khas nusantara.Kami masuk dan segera duduk disamping Pak Udin yang terbaring.” Bagaimana pak, apa sudah mendingan sakitnya dan sudah membaik?”, Aku mengawali pembicaraan untuk memecah suasana.” Alhamdulillah sudah agak membaik mas.” Jawab beliau namun masih dalam posisi terbaring. Kemudian beliau memanggil anaknya untuk membantunya bangkit dari tidur dan duduk untuk menjamu kami.” Aduh pak, buat istirahat saja”, kataku. “Nggak apa-apa mas, saya sudah lebih baik sekarang”, jawabnya.
Suasana hening sejenak, dan akhirnya aku kembali bertanya,” hari ini sudah minum obat pak?”. “ Ya,. Sudah tadi sore mas”. Aku heran pada teman-temanku ini, mereka yang mengajak menjenguk, tapi sudah sampai sini malah pada ‘membatu’. Harusnya mereka lebih aktif menanyakan keadaan kesehatan Pak Udin.
*****
Pak Udin mulai bercerita kalau kemarin waktu dia berbaring sakit seperti didatangi oleh lelaki berkulit putih dan berpakaian putih, pokoknya semua serba putih. Lelaki itu duduk di samping bantal yang gunakan Pak Udin tidur. Lelaki itu berkata” Kepinginanmu ki opo to,.rek?”. “ Pengingku anak karo bojoku sehat dadi arek seng soleh”. “ Yo wis,. sesok anak karo bojomu bakalan koyo ngono”. Kemudia lelaki itu pergi. “Setelah kejadian itu sekarang kesehatan saya membaik mas”.
Dalam hatiku bertanya-tanya, siapakah lelaki itu? Dan apa maksud dari cerita tadi? Masak iya ada malaikat ngomongnya pakai bahasa Madura? Tapi dengan spontanitas aku lalu tetap mengatakan pada Pak Udin kalau lelaki itu adalah malaikat. Dan Pak Udin berharap juga demikian.
Sungguh mengagumkan kisah tersebut. Aku lihat di segala pojok dinding rumah beliau terdapat gambar-gambar, foto-foto, dan aku pernah cerita kalau gambar dan foto tidak disukai malaikat sehingga malaikat enggan masuk ke dalam rumah-rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto. Itulah yang aku maksud mengagumkan. Malaikat boleh tidak mau masuk kedalam rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto tetapi malaikat itu sudah terlanjur masuk ke dalam rumah dalam hati Pak Udin dan tinggal di dalamnya. Sehingga tidak ada alasan malaikat itu tidak ngobrol dengan beliau. Malaikat betah dengan orang yang tutur katanya dan perilakunya  tawadhu’ atau rendah hati. Padahal jelas-jelas dia orang Madura tulen, buktinya aku lihat di salah satu dinding terdapat clurit dan ini salah satu ciri Madura kan? Tapi ini beda, ini adalah Madura yang ‘malaikatan’

Selasa, 27 Agustus 2013

OBROLAN BAPAK LAN TOLE


"Le,.nek tak pikir pikir,.. wong soale aku iso mikir,. 5 agama neng indonesia kui kok Import kabeh ya,.?"

"nggih nopo pak? kulo kinten nggih ngoten pak,.??

"la trus agamane asli gone dewe opo yo mbiyen ki??

"nek sak ngertos kulo sak derenge hindu budha niku pun wonten kepercayaan yen gusti niku siji seng disebut "sang yang tunggal"

"la nek kui sanes agama le,.kui mung konsep ketuhanan. tapi udu agama le,..neng kok simbah mbiyen wis gelem ngimport agama yo?? opo koyo pemerintah saiki seng seneng import bahan pokok,.padahal rakyate iso nek mung nyukupi we,.

"yo nggih ampun di padakke ngoten niku pak? yen mikir ngoten niku nggih klentu,.

" yo maksudku ora trus dipadakke plek ngono,.kowe kan yo wis gede mosok ra paham maksudku?

"Oo,.nggih-nggih kulo paham,.wah niki le mikir ngangge coro filsafat to,.

"nah gene ngerti,.kowe le,.!!!

OBROLAN DI BAWAH POHON TALOK

Sore itu aku pergi ke kampus yang berada di Ndalem Mangkubumen. Sekitar pukul 4 sore aku tiba di sana. Aku berhenti di bawah pohon talok untuk memarkirkan motorku. Tujuan aku ke kampus untuk menemui temanku yang sebelumnya memang sudah janji mau ketemu disini.
Sembari menunggu temanku yang belum datang, aku duduk-duduk dibawah pohon talok dan ngobrol-ngobrol dengan Pak Robi yang memang dari tadi sudah duluan duduk di situ. “pak, pripun pawartosipun? Sae? ( Pak, bagaimana kabarnya? Baik? ). “Nggih niki sae..( (iya, saya kabarnya baik). Pak robi ini adalah penjaga kampus sekaligus tukang resek-resik. Baru saja dia menyapu daun-daun lalok yang gugur.
Kami mengobrol soal keseharian, dan sangat umum. Obrolan kami sangat asik. Aku lebih suka mendengarkan Pak Robi cerita karena ceritanya sangat bermakna dan berbau sejarah dan budaya. Pak Robi boleh hanya tukang sapu tapi pengetahuannya tentang sejarah dan budaya apalagi berbau kraton sangat luas. Makaya aku seperti sedang kuliah kalau ngobrol bersama dia.
Hingga Pak Robi mulai bercerita kalau waktu Bulan puasa kemarin masjid Kadipaten didatangi oleh 8 orang alkacong / aliran kathok congklang ( alirang celana congklang ). 8 orang ini berasal dari pesantren jawa barat, tepatnya kurang begitu tahu. Dan mereka menetap sementara di masjid kadipaten untuk mengajarkan agama islam. Sebelumnya mereka suda mengantongi ijin dari berbagai pihak hingga akhirnya diperbolehkan oleh takmir masjid untuk menetap sementara di masjid.
***
Hari pertama, kedua, ketiga ceramah mereka masih masuk akal alias masih sama dengan pemahaman jamaah masjid. Namun di hari berikutnya mereka mulai berubah dan tegas dan mengharam-haramkan sesuatu yang dilakukan oleh jamaah. Pertama mereka melarang membunyikan beduk tanda akan  adzan mahgrib dan buka puasa. Alasanya tidak ada tuntunannya dalam islam. “ apa itu!! tidak ada tuntunannya dalam islam membunyikan beduk.!! Teriak salah seorang alkacong. “ Mas, memang dalam islam tidak ada tuntunannya tapi sejak dahulu membunyikan beduk sebelum adzan mahgrib sudah merupakan tradisi kami orang jawa dan itu merupakan budaya.” Salah satu jamaah menjelaskanya. Namun 8 alkacong itu tetap mengharam-haramkan.
Dihari ke tujuh mereka menghujat jamaah yang bersalaman seusai solat. “ apa itu!! tidak ada tuntunannya dalam islam bersalaman seusai solat!! Teriak salah seorang alkacong. Kembali jamaah menjelaskan bahwa ini hanyalah tradisi dari kami dan ini bukanlah tindakan yang jelek. Urusan amal diterima dan tidak itu urusan Allah. Yang penting kita tidak merugikan orang lain. “ Apa bapak yakin kalau solat bapak diterima Allah?” Tanya Alkacong. “ Ya, kalau menurut saya pasti diterima.” Jawab jamaah. “Tidak, solat bapak tidak akan diterima. Bapak ke masjid tahu nggak kalau masih suci? Harusnya bapak menggunakan pakaian seperti ini. Celana seperti ini.” Menunjukkan stelan pakaiannya.
Wargapun kemudian berembuk dan membuat keputusan kalau 8 alkacong itu harus segera angkat kaki dari masjid Kadipaten karena terlalu meresahkan para jamaah. Akhirnya Pak Takmir masjid menegaskan kepada para alkacong agar segera meninggalkan masjid kadipaten, karena jika tidak pergi Pak Takmir tidak menanggung reaksi apa yang terjadi dari masyarakat dan jamaah masjid Kadipaten. Akhirnya 8 alkacong itupun pergi meninggalkang masjid kadipaten.
***
Aku mendengar cerita dari Pak Robi jadi berpikir kok cerita seperti ini masih saja terus berulang. Ada alirang yang keras dengan ajaranya padahal sama-sama Islam? Tapi mana rahmatan lil 'alamin-nya?
Pak Robi kembali bercerita,” mas, dalu waktu seperti ini ngobrol-ngorol tentang agama, malamnya aku duduk sendiri disini tapi masih teringat cerita tadi pagi lalu bertanya sendiri. Agama asli kita itu apa sih? Semua agama itu import semua. Lalu agama asli milik kita itu apa?
Waduh, aku berpikir sejenak, iya juga ya,? Lalu aku mengucap,” emm,. Setahu saya sebelu agama Hindu dan Budha mulai menjadi agama kepercayaan di Jawa, Masyarakat jawa sudah mengenal Tuhan yang disebut sebagai “Sang Yang Tunggal”. Kemudian Pak Robi pun segera menjawab “Itu namanya kepercayaan mas,.bukan agama. Itu kepercayaan dalam konsep keTuhannan. Kalau itu saya tahu, bahwa leluhur kita itu sudah mengerti bahwa Tuhan itu satu “sang yang tunggal”. Tapi itu bukan agama. “iya,.ya,.bener juga? Jawabku.
“ Jadi mas, masyarakat jawa itu yang di sebut- sebut sebagai kejawen yang diharam-haramkan dan dinilai oleh sebagian umat muslim kita sebagai musrik,.itu bukan agama. Makanya sampai sekarang masyarakat masih berprasangka salah dengan kejawen. Kita itu agamanya Islam tulen asli,.tapi karena kecintaan kami terhadap leluhur kami dengan segala ritualnya,.ya kami lakukan. Karena sudah saya bilang itu bukan agama,.tapi hanyalah murni unsur tradisi dan kebudayaan. Kami tetap menjalankan syariat Islam sesuai perinta Agama, namun apa salah kami mencintai tradisi kami? Budaya kami? Selama niat kami itu benar seperti yang saya sampaikan tadi, gak ada masalah!! Agama juga tidak melarang!! Semua amal itu kan sesuai dengan ilmu dan niatnya. Allah kan sudah mentakdirkan kita sebagai orang Jawa, bukan orang Arab..maka jelas kita disuruh menjadi orang jawa. Jangan meng arab-arabkan orang Jawa. Lah,.mana lita'arafu nya, untuk saling mengenal. Lah,. rahmatan lil 'alamin-nya?
Pernyataan Pak Robi membuka lebih luas tentang pandanganku yang sempit selama ini. Memang kalau rahmatan lil 'alamin itu harus diartikan luas dan menjangkau segala lapisan masyarakat. Dan memang tradisi itu dimiliki oleh setiap suku-suku yang ada di dunia ini, selama tradisi dan budaya itu tidak melanggar syariat agama maka tidak menjadi persoalan. Karena semua hasil akhir menjadi urusan Allah.