Di kampungku ada orang Madura yang sangat rajin
solat ke masjid. Beliau bernama Zainudin, panggil saja Pak Udin. Seringnya dia
ke masjid dan bersosial dengan masyarakat akhirnya membuat dia menjadi orang
yang disegani. Di masjid dia di ‘dapuk’
menjadi imam tetap masjid kecuali beliau berhalangan, misalkan sakit atau ada
urusan yang tidak bisa ditunda. Dia tidak seperti orang Madura yang konon
seperti ‘itu’, tapi beliau sangat sopan dan lembut dalam tutur katanya.
Saya berpikir dia itu orang jawa yang berlogat
menyamar jadi orang Madura. Tetapi logatnya itu terlihat bahwa dia Madura
tulen, tapi sikapnya dan prilakunya juga Jawa sekali. Kecurigaan saya bukan
tanpa alasan, karena orang Madura terkenal dengan sikap yang keras dan tegas
serta berani, sedangkan Pak Udin hanya logatnya saja yang Madura walaupun kalau
berbahasa dia selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Hari ini dia tidak ke masjid untuk ibadah solat
mahgrib. Dan aku kemudian diajak oleh tiga orang temanku untuk menjenguk
beliau. Sebelumnya aku cuek dengan Pak Udin, mau dia ke masjid ataupun tidak
bukan urusanku. Dan aku juga tidak tahu kalau beliau sekarang sedang sedang
sakit.
*****
Akhirnya aku dan ketiga temanku mendatangi rumah Pak
Udin untuk menjenguknya. Beliau hanya seorang pendatang dan saya tahu kalau dia
hanya ngontrak di kampungku. Sesampainya kita di kontrakan beliau, pas di depan
rumahnya sebelum masuk melihat ke dalam rumah, terlihat laki-laki yang
terbaring lemah di bawah, di atas kasur yang sudah kempes, dialah Pak Udin.
“Assalamualaikum”salam kami ucapkan. “
Waalaikumusalam, Oo,..mari sini mas masuk. Aduh tempatnya kotor ya,.” Istri Pak
Udin menjawabnya dengan tambahan basa-basi khas nusantara.Kami masuk dan segera
duduk disamping Pak Udin yang terbaring.” Bagaimana pak, apa sudah mendingan
sakitnya dan sudah membaik?”, Aku mengawali pembicaraan untuk memecah suasana.”
Alhamdulillah sudah agak membaik mas.” Jawab beliau namun masih dalam posisi
terbaring. Kemudian beliau memanggil anaknya untuk membantunya bangkit dari
tidur dan duduk untuk menjamu kami.” Aduh pak, buat istirahat saja”, kataku. “Nggak
apa-apa mas, saya sudah lebih baik sekarang”, jawabnya.
Suasana hening sejenak, dan akhirnya aku kembali
bertanya,” hari ini sudah minum obat pak?”. “ Ya,. Sudah tadi sore mas”. Aku
heran pada teman-temanku ini, mereka yang mengajak menjenguk, tapi sudah sampai
sini malah pada ‘membatu’. Harusnya mereka lebih aktif menanyakan keadaan
kesehatan Pak Udin.
*****
Pak Udin mulai bercerita kalau kemarin waktu dia
berbaring sakit seperti didatangi oleh lelaki berkulit putih dan berpakaian
putih, pokoknya semua serba putih. Lelaki itu duduk di samping bantal yang
gunakan Pak Udin tidur. Lelaki itu berkata”
Kepinginanmu ki opo to,.rek?”. “ Pengingku
anak karo bojoku sehat dadi arek seng soleh”. “ Yo wis,. sesok anak karo bojomu bakalan koyo ngono”. Kemudia
lelaki itu pergi. “Setelah kejadian itu sekarang kesehatan saya membaik mas”.
Dalam hatiku bertanya-tanya, siapakah lelaki itu?
Dan apa maksud dari cerita tadi? Masak iya ada malaikat ngomongnya pakai bahasa
Madura? Tapi dengan spontanitas aku lalu tetap mengatakan pada Pak Udin kalau
lelaki itu adalah malaikat. Dan Pak Udin berharap juga demikian.
Sungguh mengagumkan kisah tersebut. Aku lihat di
segala pojok dinding rumah beliau terdapat gambar-gambar, foto-foto, dan aku
pernah cerita kalau gambar dan foto tidak disukai malaikat sehingga malaikat
enggan masuk ke dalam rumah-rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto.
Itulah yang aku maksud mengagumkan. Malaikat boleh tidak mau masuk kedalam
rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto tetapi malaikat itu sudah
terlanjur masuk ke dalam rumah dalam hati Pak Udin dan tinggal di dalamnya.
Sehingga tidak ada alasan malaikat itu tidak ngobrol dengan beliau. Malaikat betah
dengan orang yang tutur katanya dan perilakunya tawadhu’ atau rendah hati. Padahal jelas-jelas
dia orang Madura tulen, buktinya aku lihat di salah satu dinding terdapat clurit dan ini salah satu ciri Madura
kan? Tapi ini beda, ini adalah Madura yang ‘malaikatan’.
0 komentar:
Posting Komentar