Rabu, 28 Agustus 2013

MADURA YANG 'JAWA' DAN 'MALAIKATAN'

Di kampungku ada orang Madura yang sangat rajin solat ke masjid. Beliau bernama Zainudin, panggil saja Pak Udin. Seringnya dia ke masjid dan bersosial dengan masyarakat akhirnya membuat dia menjadi orang yang disegani. Di masjid dia di ‘dapuk’ menjadi imam tetap masjid kecuali beliau berhalangan, misalkan sakit atau ada urusan yang tidak bisa ditunda. Dia tidak seperti orang Madura yang konon seperti ‘itu’, tapi beliau sangat sopan dan lembut dalam tutur katanya.
Saya berpikir dia itu orang jawa yang berlogat menyamar jadi orang Madura. Tetapi logatnya itu terlihat bahwa dia Madura tulen, tapi sikapnya dan prilakunya juga Jawa sekali. Kecurigaan saya bukan tanpa alasan, karena orang Madura terkenal dengan sikap yang keras dan tegas serta berani, sedangkan Pak Udin hanya logatnya saja yang Madura walaupun kalau berbahasa dia selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Hari ini dia tidak ke masjid untuk ibadah solat mahgrib. Dan aku kemudian diajak oleh tiga orang temanku untuk menjenguk beliau. Sebelumnya aku cuek dengan Pak Udin, mau dia ke masjid ataupun tidak bukan urusanku. Dan aku juga tidak tahu kalau beliau sekarang sedang sedang sakit.
*****
Akhirnya aku dan ketiga temanku mendatangi rumah Pak Udin untuk menjenguknya. Beliau hanya seorang pendatang dan saya tahu kalau dia hanya ngontrak di kampungku. Sesampainya kita di kontrakan beliau, pas di depan rumahnya sebelum masuk melihat ke dalam rumah, terlihat laki-laki yang terbaring lemah di bawah, di atas kasur yang sudah kempes, dialah Pak Udin.
 “Assalamualaikum”salam kami ucapkan. “ Waalaikumusalam, Oo,..mari sini mas masuk. Aduh tempatnya kotor ya,.” Istri Pak Udin menjawabnya dengan tambahan basa-basi khas nusantara.Kami masuk dan segera duduk disamping Pak Udin yang terbaring.” Bagaimana pak, apa sudah mendingan sakitnya dan sudah membaik?”, Aku mengawali pembicaraan untuk memecah suasana.” Alhamdulillah sudah agak membaik mas.” Jawab beliau namun masih dalam posisi terbaring. Kemudian beliau memanggil anaknya untuk membantunya bangkit dari tidur dan duduk untuk menjamu kami.” Aduh pak, buat istirahat saja”, kataku. “Nggak apa-apa mas, saya sudah lebih baik sekarang”, jawabnya.
Suasana hening sejenak, dan akhirnya aku kembali bertanya,” hari ini sudah minum obat pak?”. “ Ya,. Sudah tadi sore mas”. Aku heran pada teman-temanku ini, mereka yang mengajak menjenguk, tapi sudah sampai sini malah pada ‘membatu’. Harusnya mereka lebih aktif menanyakan keadaan kesehatan Pak Udin.
*****
Pak Udin mulai bercerita kalau kemarin waktu dia berbaring sakit seperti didatangi oleh lelaki berkulit putih dan berpakaian putih, pokoknya semua serba putih. Lelaki itu duduk di samping bantal yang gunakan Pak Udin tidur. Lelaki itu berkata” Kepinginanmu ki opo to,.rek?”. “ Pengingku anak karo bojoku sehat dadi arek seng soleh”. “ Yo wis,. sesok anak karo bojomu bakalan koyo ngono”. Kemudia lelaki itu pergi. “Setelah kejadian itu sekarang kesehatan saya membaik mas”.
Dalam hatiku bertanya-tanya, siapakah lelaki itu? Dan apa maksud dari cerita tadi? Masak iya ada malaikat ngomongnya pakai bahasa Madura? Tapi dengan spontanitas aku lalu tetap mengatakan pada Pak Udin kalau lelaki itu adalah malaikat. Dan Pak Udin berharap juga demikian.
Sungguh mengagumkan kisah tersebut. Aku lihat di segala pojok dinding rumah beliau terdapat gambar-gambar, foto-foto, dan aku pernah cerita kalau gambar dan foto tidak disukai malaikat sehingga malaikat enggan masuk ke dalam rumah-rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto. Itulah yang aku maksud mengagumkan. Malaikat boleh tidak mau masuk kedalam rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto tetapi malaikat itu sudah terlanjur masuk ke dalam rumah dalam hati Pak Udin dan tinggal di dalamnya. Sehingga tidak ada alasan malaikat itu tidak ngobrol dengan beliau. Malaikat betah dengan orang yang tutur katanya dan perilakunya  tawadhu’ atau rendah hati. Padahal jelas-jelas dia orang Madura tulen, buktinya aku lihat di salah satu dinding terdapat clurit dan ini salah satu ciri Madura kan? Tapi ini beda, ini adalah Madura yang ‘malaikatan’

0 komentar:

Posting Komentar