Ini dunia sudah aneh. Kita gak punya
uang di paksa untuk membeli! dan waktu punya uang malah disuruh utang! Udah keblinger
menungsane kalau caranya seperti ini. Saya jadi teringat ramalan Jayabaya ‘Iku tandhane
yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman’. Kenyataanya memang demikian. Ini pengalamanku sendiri ketika saya akan
membeli pulsa 10 ribu dengan harga 11 ribu, waktu itu saya bayar dengan uang 12
ribu tapi bakulnya gak mau terima
uang yang 2 ribunya dan hanya mengambil uang yang 10 ribu saja, alasanya “ wah
mas, gak ada kembalian seribu”. Dengan alasan gak punya kembalian yang hanya
barang seribu perak dia dengan seenaknya memaksa aku untuk utang seribu. Ini
piye to ? ini aku ada uang, malahan lebih? tapi malah dipaksa utang? Asu..!!!
Masya
Allah, kok ya jadi begini to jadinya?
“Indonesia,,,Indonesia” bangsamu kok jadi bangsa yang seenak udele dewe. Serasa sudah umum dan memang
begitu adanya sekarang ini. Lah, ini masalah sepele, coba kalau malasah ini
jadi kebiasaan dan dilakukan dimana-mana. Suatu ketika misalnya ingin beli
motor, dan saya punya uang pas dan cukup untuk beli secara kontan. Tapi pihak
dealernya bersikeras untuk menjual motornya secara kredit. Kan podo le asu to?
Kalau kita cermati memang dijaman
sekarang ini manusia dipaksa untuk terbiasa berhutang. Berhutang budi,
berhutang nyawa, berhutang seribu untuk beli rokok 1 batang, berhutang untuk
bayar hutang, berhutang kreditan motor, mobil, rumah bahkan sekarang ada arisan
simpan pinjam alias ngutangke.
Artinya kita dididik secara sosial untuk terbiasa berhutang. Ya memang kalau
benar-benar gak punya uang sepeserpun harus utang. Tapi kalau punya uang tapi
karena sudah terbiasa hutang atau dihutangi ya utang lagi. Pokoknya tiada hidup
tanpa utang. ‘Life is utang’ atau ‘My adventure is utang’.
Ini tiadak masalh sih sebenarnya,
selama sanggup untuk membayarnya. Tapi kalau jadi kebiasaan juga,..Masalahnya
gini hutang itu sebenarnya termasuk janji. Karena berfaham dari “janji adalah
hutang” maka jelas bahwa hujang itu adalah janji, maka janji jelas harus
ditepati. Karena kalau tidak ditepati akan terus-terusan ditagih. Tidak hanya
di dunia pertanggungjawabanya, tapi juga di akhirat dan kepada Tuhan. Makanya
ini menjadi masalah serius sebenarnya, kalau kita semua paham dan mau memahami.
0 komentar:
Posting Komentar