Pagi ini setelah aku pahami dengan jujur tentang
kedewasaan diri yang merayap dalam situs metropolitan duniawi, kemudian aku
terdiam sejenak. Dalam diamku itu, terpikirkan tentang begitu gampangnya mereka
mendapatkan manisnya dunia. Begitu nikmat hidup mereka karena berkuasa dan
memiliki semua yang tidak aku miliki. Sungguh nikmat dan bahagia rasanya.
Seperti aku mendengar kutbah solat jum’at yang kalimatnya tidak pernah berubah yang
bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’”. Sepertinya, ‘bahagia’ yang
dimaksud mungkin buat mereka? Sedangkan buatku? Kalau kita pahami pembukaan
kutbah itu seperti sindiran yang stagnasi karena kalimatnya tidak pernah
berubah. Dari dulu sampai besok seterusnya seperti itu terus.
Adilkah ini? Jika melihat dari sisi pandangan dari
sini memang tidak adil. Akan tetapi aku ingin lebih bisa melihat dari dekat,
dari kedua mataku yang sakit ini. Ini seperti nonton siaran TV, dari jauh kurang
jelas tapi didekati mataku jadi berair, tapi tetap tidak tahu situasi yang
sebenarnya karena TV ku hanya 21 inci. Seandainya aku bisa masuk ke dalam TV
dan melihat-lihat situasi di sana.
Aku mengusap-usap kaca mataku ini, dan inilah yang
Allah berikan kepadaku kedua mata yang mampu untuk melihat dengan jelas dengan
bantuan kaca mata. Aku harus bersyukur dari sini. Bahagiaku dengan bahagia
mereka sangat berbeda. Tapi arti bahagia itu seperti apa? Dan bagaimana aku
mengartikannya?
Apakah bahagia bagiku itu tertawa,. Tapi mereka
juga tertawa. Apakah bahagia bagiku itu bisa tidur nyenyak,.Tapi kasur mereka
lebih nyaman. Apakah bahagia bagiku bisa makan hari ini,.Tapi makanan mereka
lebih enak. Artinya semua manusia punya kebahagiaan yang takarannya berbeda-beda.
Bahagia, gembira dan berlanjut bersyukur ataupun
sebaliknya bersyukur, gembira ban bahagia. Semua ini dari manusia sendiri, dari
pembawaan pikiran dan hati manusia. Manusia mampu mengelola kebahagiaan itu karena
mempunyai akal dan pikiran. Sedangkan yang menciptakan manusia itu adalah Allah,
maka sebenarnya kebahagiaanku datangnya dari Allah. Jika aku senantiasa mengingat
kebesaran Allah, maka ketakutanku dan kesedihanku lebih kerdil dari kebahagiaanku
mengingat Allah.
Jadi tidak masalah bagiku setelah ini mendengar kutbah
jum’at yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’” karena konteksnya jelas,
waktunya pas aku sedang mengingat Allah dan aku berbahagia mengingat Allah. Yah,
memang aku harus pahami kedewasaan ini. Membuka ruang imajiner dalam kantong
cakrawala kehidupan ini.
0 komentar:
Posting Komentar