Jumat, 05 Agustus 2016

Di jakarta hari ini 1 agustus 2016

Di jakarta hari ini 1 agustus 2016, sudah 3 bulan aku merantau lama. Jauh terbang kutinggalkan mamak bapakku di kampung, kutinggalkan markas kenanganku kala kau menuliskan sesuatu di kain putih yang selalu aku dekap sebagai redup penghantar lelapku.kekasih, setelah ini aku tidak tahu lagi sampai kapan aku bertahan di sini. 

Desember itu menungguku untuk pulang, tapi aku tidak akan membawa apa apa dari istiqomah perantauanku, masih belum cukup, jelas masih belum cukup.

Aku kadang masih selalu teringat dengan lirik lirikmu yang kau nyanyikan di sore senja itu, tempat yang selalu kita kunjungi menjadi sudut sudut romantis, ketidaksabaranmu bertemu diriku, selalu menjadi kemesraan tersendiri bagi kita.  

Kekasih, kini kita sudah berpisah hanya jejak tulisan saja yang kau tinggalkan di sudut sudut kamarku. Aku bertanya dalam hati, apakah aku ini benar kekasihmu? Atau aku hanyalah pelarianmu?

Kini kau sudah kembali di kehidupanmu yang lama, tanpaku, tanpa


Saat ini hanya kenanganmu yang aku sembunyikan dalam diamku. 

Rabu, 22 Januari 2014

awal 2014

Matanya terbang dari ufuk  cakrawala

Melihat bumi pertiwi sudah tak seperti buminya dahulu ….Hilang seperti debu 
Garuda pun terbang berputar-putar melihat sekeliling. Mungkin masih ada sosok harapan di bawah sana
Mungkin masih ada, tapi dia belum menemukan yang benar tulus cinta menaruh harapan pada tanah garuda.

Sayap itu  sudah tua, mata itu sudah rabun, cakar itu sudah tidak lagi kuat mencengkram tulisan itu,.lantas
Dia pun malu untuk bangkit karena...sudah tidak ada yang perduli lagi dengan sejatinya sang Garuda

Kamis, 03 Oktober 2013

_Coretan Kecil-Novi Maulana_

"Logat Jawa Adalah Jati Diriku, Sangat Sakral Ketika Aku Mendesain Kehidupanku Sendiri,."

Pagi-pagi ketika beres-beres kamar aku lihat kertas yang bertuliskan
 "Logat Jawa Adalah Jati Diriku, Sangat Sakral Ketika Aku Mendesain Kehidupanku Sendiri,.". 
Aku lupa kapan aku tulis kalimat ini di selembar kertas bekas ini. Kecil tapi sangat bermakna.

Minggu, 15 September 2013

ASHAR

Waktu menunjukkan tepat pukul 15.00 WIB. Aku mendengar suara itu, suara yang pasti akan terus aku dengar selama aku masih hidup. Suara itu terdengar dimana-mana, namun kali ini di dalam kamarku terdengar sangat pelan sekali, namun masih sedikit terdengar olehku. Karena memang kamarku terletak pada tempat yang dekat dengan sungai pinggir ‘kali gajah wong’ di bawah lembah. Wajar jika suara-suara itu kurang begitu terdengar disini. Ya,.suara itu adalah suara ‘adzan Ashar’.
Namun aku masih duduk terdiam di sini, di dalam kamarku yang pengap tempatku biasa menyendiri. Baru saja aku pulang dari kerja dan masih lelah. Pada saat selesainya adzan ashar itu, aku tidak segera bergegas mengambil air wudhu untuk sholat melainkan masih tetap diam disini. Gelisah memang dalam hati ini, tapi kubiarkan mereka seperti itu. Aku memang tidak sholat ‘tepat waktu’ seperti mereka yang menjalankannya. Aku belum siap !!!
Dalam hatiku, dalam pikiranku dan dalam jiwa ragaku akan bertemu dengan yang maha Agung Allah. Namun aku yang belum siap ini jika dipaksakan untuk berkomunikasi ‘sholat’ maka aku tidak bisa merasakan nikmat dan indahnya melakukannya. Tempatku untuk sholat kotor, harus aku bersihkan dahulu. Tubuhku ini juga masih kotor, paling tidak aku perlu mandi. Aku yakini ini bukan menunda waktu sholat. Karena sholat untuk orang yang siap. Siap segalanya dari lahir dan batin, karena itu merupakan metode kita berkomunikasi dengan Allah. 

Kamis, 12 September 2013

PUISI

JASAD
Oleh : Novi Maulana
Ketika tubuh kosong tergeletak diatas bumi
Hujan deras air mata melucuti nyali
Tercabik-cabik ruang jasad halusinasi hati
Memecah belah takdir  dalam suatu persepsi

Lalu kemana tubuh akan berlari
Dari mata yang terbang dengan sayap putih
Menuntun tanah kembali kedalam tanah
Melebur  hancur  magma menuju surga

Senin, 09 September 2013

PUISI

DARI IBU PERTIWI
Oleh: Novi Maulana
Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi semakin tua?
Sudah 68 tahun umurnya
Sudahkah engkau sekali saja menengoknya?
Menanyakan kabarnya hari ini
Mendengar keluh kesahnya, mendengar rintihan tangisnya

Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi selalu mendoakanmu?
Sudah sejak proklamasi dahulu
Sudahkah engkau sekali saja mengingatnya?
Datang kepadanya hari ini
Mencium tangannya, memeluk tubuhnya yang semakin rapuh

Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi tidak pernah mengeluh untukmu?
Selalu memberimu kasih sayang
Tidakkah engkau mau menbalasnya?
Mengabdi kepadanya, dengan pengabdian yang jujur

Tapi ibu pertiwi tidak pernah minta apa-apa darimu
Sudah menjadi pilihannya untuk membesarkanmu
Menjadikanmu pemimpin atas dirimu
Lalu kemudian engkau mengacuhkannya

Minggu, 08 September 2013

KONSEP BAHAGIA

Pagi ini setelah aku pahami dengan jujur tentang kedewasaan diri yang merayap dalam situs metropolitan duniawi, kemudian aku terdiam sejenak. Dalam diamku itu, terpikirkan tentang begitu gampangnya mereka mendapatkan manisnya dunia. Begitu nikmat hidup mereka karena berkuasa dan memiliki semua yang tidak aku miliki. Sungguh nikmat dan bahagia rasanya.
Seperti aku mendengar kutbah solat jum’at  yang kalimatnya tidak pernah berubah yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’”. Sepertinya, ‘bahagia’ yang dimaksud mungkin buat mereka? Sedangkan buatku? Kalau kita pahami pembukaan kutbah itu seperti sindiran yang stagnasi karena kalimatnya tidak pernah berubah. Dari dulu sampai besok seterusnya seperti itu terus.
Adilkah ini? Jika melihat dari sisi pandangan dari sini memang tidak adil. Akan tetapi aku ingin lebih bisa melihat dari dekat, dari kedua mataku yang sakit ini. Ini seperti nonton siaran TV, dari jauh kurang jelas tapi didekati mataku jadi berair, tapi tetap tidak tahu situasi yang sebenarnya karena TV ku hanya 21 inci. Seandainya aku bisa masuk ke dalam TV dan melihat-lihat situasi di sana.
Aku mengusap-usap kaca mataku ini, dan inilah yang Allah berikan kepadaku kedua mata yang mampu untuk melihat dengan jelas dengan bantuan kaca mata. Aku harus bersyukur dari sini. Bahagiaku dengan bahagia mereka sangat berbeda. Tapi arti bahagia itu seperti apa? Dan bagaimana aku mengartikannya?
Apakah bahagia bagiku itu tertawa,. Tapi mereka juga tertawa. Apakah bahagia bagiku itu bisa tidur nyenyak,.Tapi kasur mereka lebih nyaman. Apakah bahagia bagiku bisa makan hari ini,.Tapi makanan mereka lebih enak. Artinya semua manusia punya kebahagiaan yang takarannya berbeda-beda.
Bahagia, gembira dan berlanjut bersyukur ataupun sebaliknya bersyukur, gembira ban bahagia. Semua ini dari manusia sendiri, dari pembawaan pikiran dan hati manusia. Manusia mampu mengelola kebahagiaan itu karena mempunyai akal dan pikiran. Sedangkan yang menciptakan manusia itu adalah Allah, maka sebenarnya kebahagiaanku datangnya dari Allah. Jika aku senantiasa mengingat kebesaran Allah, maka ketakutanku dan kesedihanku lebih kerdil dari kebahagiaanku mengingat Allah.

Jadi tidak masalah bagiku setelah ini mendengar kutbah jum’at yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’” karena konteksnya jelas, waktunya pas aku sedang mengingat Allah dan aku berbahagia mengingat Allah. Yah, memang aku harus pahami kedewasaan ini. Membuka ruang imajiner dalam kantong cakrawala kehidupan ini.