Kamis, 03 Oktober 2013

_Coretan Kecil-Novi Maulana_

"Logat Jawa Adalah Jati Diriku, Sangat Sakral Ketika Aku Mendesain Kehidupanku Sendiri,."

Pagi-pagi ketika beres-beres kamar aku lihat kertas yang bertuliskan
 "Logat Jawa Adalah Jati Diriku, Sangat Sakral Ketika Aku Mendesain Kehidupanku Sendiri,.". 
Aku lupa kapan aku tulis kalimat ini di selembar kertas bekas ini. Kecil tapi sangat bermakna.

Minggu, 15 September 2013

ASHAR

Waktu menunjukkan tepat pukul 15.00 WIB. Aku mendengar suara itu, suara yang pasti akan terus aku dengar selama aku masih hidup. Suara itu terdengar dimana-mana, namun kali ini di dalam kamarku terdengar sangat pelan sekali, namun masih sedikit terdengar olehku. Karena memang kamarku terletak pada tempat yang dekat dengan sungai pinggir ‘kali gajah wong’ di bawah lembah. Wajar jika suara-suara itu kurang begitu terdengar disini. Ya,.suara itu adalah suara ‘adzan Ashar’.
Namun aku masih duduk terdiam di sini, di dalam kamarku yang pengap tempatku biasa menyendiri. Baru saja aku pulang dari kerja dan masih lelah. Pada saat selesainya adzan ashar itu, aku tidak segera bergegas mengambil air wudhu untuk sholat melainkan masih tetap diam disini. Gelisah memang dalam hati ini, tapi kubiarkan mereka seperti itu. Aku memang tidak sholat ‘tepat waktu’ seperti mereka yang menjalankannya. Aku belum siap !!!
Dalam hatiku, dalam pikiranku dan dalam jiwa ragaku akan bertemu dengan yang maha Agung Allah. Namun aku yang belum siap ini jika dipaksakan untuk berkomunikasi ‘sholat’ maka aku tidak bisa merasakan nikmat dan indahnya melakukannya. Tempatku untuk sholat kotor, harus aku bersihkan dahulu. Tubuhku ini juga masih kotor, paling tidak aku perlu mandi. Aku yakini ini bukan menunda waktu sholat. Karena sholat untuk orang yang siap. Siap segalanya dari lahir dan batin, karena itu merupakan metode kita berkomunikasi dengan Allah. 

Kamis, 12 September 2013

PUISI

JASAD
Oleh : Novi Maulana
Ketika tubuh kosong tergeletak diatas bumi
Hujan deras air mata melucuti nyali
Tercabik-cabik ruang jasad halusinasi hati
Memecah belah takdir  dalam suatu persepsi

Lalu kemana tubuh akan berlari
Dari mata yang terbang dengan sayap putih
Menuntun tanah kembali kedalam tanah
Melebur  hancur  magma menuju surga

Senin, 09 September 2013

PUISI

DARI IBU PERTIWI
Oleh: Novi Maulana
Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi semakin tua?
Sudah 68 tahun umurnya
Sudahkah engkau sekali saja menengoknya?
Menanyakan kabarnya hari ini
Mendengar keluh kesahnya, mendengar rintihan tangisnya

Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi selalu mendoakanmu?
Sudah sejak proklamasi dahulu
Sudahkah engkau sekali saja mengingatnya?
Datang kepadanya hari ini
Mencium tangannya, memeluk tubuhnya yang semakin rapuh

Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi tidak pernah mengeluh untukmu?
Selalu memberimu kasih sayang
Tidakkah engkau mau menbalasnya?
Mengabdi kepadanya, dengan pengabdian yang jujur

Tapi ibu pertiwi tidak pernah minta apa-apa darimu
Sudah menjadi pilihannya untuk membesarkanmu
Menjadikanmu pemimpin atas dirimu
Lalu kemudian engkau mengacuhkannya

Minggu, 08 September 2013

KONSEP BAHAGIA

Pagi ini setelah aku pahami dengan jujur tentang kedewasaan diri yang merayap dalam situs metropolitan duniawi, kemudian aku terdiam sejenak. Dalam diamku itu, terpikirkan tentang begitu gampangnya mereka mendapatkan manisnya dunia. Begitu nikmat hidup mereka karena berkuasa dan memiliki semua yang tidak aku miliki. Sungguh nikmat dan bahagia rasanya.
Seperti aku mendengar kutbah solat jum’at  yang kalimatnya tidak pernah berubah yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’”. Sepertinya, ‘bahagia’ yang dimaksud mungkin buat mereka? Sedangkan buatku? Kalau kita pahami pembukaan kutbah itu seperti sindiran yang stagnasi karena kalimatnya tidak pernah berubah. Dari dulu sampai besok seterusnya seperti itu terus.
Adilkah ini? Jika melihat dari sisi pandangan dari sini memang tidak adil. Akan tetapi aku ingin lebih bisa melihat dari dekat, dari kedua mataku yang sakit ini. Ini seperti nonton siaran TV, dari jauh kurang jelas tapi didekati mataku jadi berair, tapi tetap tidak tahu situasi yang sebenarnya karena TV ku hanya 21 inci. Seandainya aku bisa masuk ke dalam TV dan melihat-lihat situasi di sana.
Aku mengusap-usap kaca mataku ini, dan inilah yang Allah berikan kepadaku kedua mata yang mampu untuk melihat dengan jelas dengan bantuan kaca mata. Aku harus bersyukur dari sini. Bahagiaku dengan bahagia mereka sangat berbeda. Tapi arti bahagia itu seperti apa? Dan bagaimana aku mengartikannya?
Apakah bahagia bagiku itu tertawa,. Tapi mereka juga tertawa. Apakah bahagia bagiku itu bisa tidur nyenyak,.Tapi kasur mereka lebih nyaman. Apakah bahagia bagiku bisa makan hari ini,.Tapi makanan mereka lebih enak. Artinya semua manusia punya kebahagiaan yang takarannya berbeda-beda.
Bahagia, gembira dan berlanjut bersyukur ataupun sebaliknya bersyukur, gembira ban bahagia. Semua ini dari manusia sendiri, dari pembawaan pikiran dan hati manusia. Manusia mampu mengelola kebahagiaan itu karena mempunyai akal dan pikiran. Sedangkan yang menciptakan manusia itu adalah Allah, maka sebenarnya kebahagiaanku datangnya dari Allah. Jika aku senantiasa mengingat kebesaran Allah, maka ketakutanku dan kesedihanku lebih kerdil dari kebahagiaanku mengingat Allah.

Jadi tidak masalah bagiku setelah ini mendengar kutbah jum’at yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’” karena konteksnya jelas, waktunya pas aku sedang mengingat Allah dan aku berbahagia mengingat Allah. Yah, memang aku harus pahami kedewasaan ini. Membuka ruang imajiner dalam kantong cakrawala kehidupan ini. 

Kamis, 29 Agustus 2013

MY ADVENTURE IS 'HUTANG'

Ini dunia sudah aneh. Kita gak punya uang di paksa untuk membeli! dan waktu punya uang malah disuruh utang!  Udah keblinger menungsane kalau caranya seperti ini. Saya jadi teringat ramalan Jayabaya ‘Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman’. Kenyataanya memang demikian. Ini pengalamanku sendiri ketika saya akan membeli pulsa 10 ribu dengan harga 11 ribu, waktu itu saya bayar dengan uang 12 ribu tapi bakulnya gak mau terima uang yang 2 ribunya dan hanya mengambil uang yang 10 ribu saja, alasanya “ wah mas, gak ada kembalian seribu”. Dengan alasan gak punya kembalian yang hanya barang seribu perak dia dengan seenaknya memaksa aku untuk utang seribu. Ini piye to ? ini aku ada uang, malahan lebih? tapi malah dipaksa utang? Asu..!!!
Masya Allah, kok ya jadi begini to jadinya? “Indonesia,,,Indonesia” bangsamu kok jadi bangsa yang seenak udele dewe. Serasa sudah umum dan memang begitu adanya sekarang ini. Lah, ini masalah sepele, coba kalau malasah ini jadi kebiasaan dan dilakukan dimana-mana. Suatu ketika misalnya ingin beli motor, dan saya punya uang pas dan cukup untuk beli secara kontan. Tapi pihak dealernya bersikeras untuk menjual motornya secara kredit. Kan podo le asu to?
Kalau kita cermati memang dijaman sekarang ini manusia dipaksa untuk terbiasa berhutang. Berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang seribu untuk beli rokok 1 batang, berhutang untuk bayar hutang, berhutang kreditan motor, mobil, rumah bahkan sekarang ada arisan simpan pinjam alias ngutangke. Artinya kita dididik secara sosial untuk terbiasa berhutang. Ya memang kalau benar-benar gak punya uang sepeserpun harus utang. Tapi kalau punya uang tapi karena sudah terbiasa hutang atau dihutangi ya utang lagi. Pokoknya tiada hidup tanpa utang. ‘Life is utang’ atauMy adventure is utang’.
Ini tiadak masalh sih sebenarnya, selama sanggup untuk membayarnya. Tapi kalau jadi kebiasaan juga,..Masalahnya gini hutang itu sebenarnya termasuk janji. Karena berfaham dari “janji adalah hutang” maka jelas bahwa hujang itu adalah janji, maka janji jelas harus ditepati. Karena kalau tidak ditepati akan terus-terusan ditagih. Tidak hanya di dunia pertanggungjawabanya, tapi juga di akhirat dan kepada Tuhan. Makanya ini menjadi masalah serius sebenarnya, kalau kita semua paham dan mau memahami.

Rabu, 28 Agustus 2013

MADURA YANG 'JAWA' DAN 'MALAIKATAN'

Di kampungku ada orang Madura yang sangat rajin solat ke masjid. Beliau bernama Zainudin, panggil saja Pak Udin. Seringnya dia ke masjid dan bersosial dengan masyarakat akhirnya membuat dia menjadi orang yang disegani. Di masjid dia di ‘dapuk’ menjadi imam tetap masjid kecuali beliau berhalangan, misalkan sakit atau ada urusan yang tidak bisa ditunda. Dia tidak seperti orang Madura yang konon seperti ‘itu’, tapi beliau sangat sopan dan lembut dalam tutur katanya.
Saya berpikir dia itu orang jawa yang berlogat menyamar jadi orang Madura. Tetapi logatnya itu terlihat bahwa dia Madura tulen, tapi sikapnya dan prilakunya juga Jawa sekali. Kecurigaan saya bukan tanpa alasan, karena orang Madura terkenal dengan sikap yang keras dan tegas serta berani, sedangkan Pak Udin hanya logatnya saja yang Madura walaupun kalau berbahasa dia selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Hari ini dia tidak ke masjid untuk ibadah solat mahgrib. Dan aku kemudian diajak oleh tiga orang temanku untuk menjenguk beliau. Sebelumnya aku cuek dengan Pak Udin, mau dia ke masjid ataupun tidak bukan urusanku. Dan aku juga tidak tahu kalau beliau sekarang sedang sedang sakit.
*****
Akhirnya aku dan ketiga temanku mendatangi rumah Pak Udin untuk menjenguknya. Beliau hanya seorang pendatang dan saya tahu kalau dia hanya ngontrak di kampungku. Sesampainya kita di kontrakan beliau, pas di depan rumahnya sebelum masuk melihat ke dalam rumah, terlihat laki-laki yang terbaring lemah di bawah, di atas kasur yang sudah kempes, dialah Pak Udin.
 “Assalamualaikum”salam kami ucapkan. “ Waalaikumusalam, Oo,..mari sini mas masuk. Aduh tempatnya kotor ya,.” Istri Pak Udin menjawabnya dengan tambahan basa-basi khas nusantara.Kami masuk dan segera duduk disamping Pak Udin yang terbaring.” Bagaimana pak, apa sudah mendingan sakitnya dan sudah membaik?”, Aku mengawali pembicaraan untuk memecah suasana.” Alhamdulillah sudah agak membaik mas.” Jawab beliau namun masih dalam posisi terbaring. Kemudian beliau memanggil anaknya untuk membantunya bangkit dari tidur dan duduk untuk menjamu kami.” Aduh pak, buat istirahat saja”, kataku. “Nggak apa-apa mas, saya sudah lebih baik sekarang”, jawabnya.
Suasana hening sejenak, dan akhirnya aku kembali bertanya,” hari ini sudah minum obat pak?”. “ Ya,. Sudah tadi sore mas”. Aku heran pada teman-temanku ini, mereka yang mengajak menjenguk, tapi sudah sampai sini malah pada ‘membatu’. Harusnya mereka lebih aktif menanyakan keadaan kesehatan Pak Udin.
*****
Pak Udin mulai bercerita kalau kemarin waktu dia berbaring sakit seperti didatangi oleh lelaki berkulit putih dan berpakaian putih, pokoknya semua serba putih. Lelaki itu duduk di samping bantal yang gunakan Pak Udin tidur. Lelaki itu berkata” Kepinginanmu ki opo to,.rek?”. “ Pengingku anak karo bojoku sehat dadi arek seng soleh”. “ Yo wis,. sesok anak karo bojomu bakalan koyo ngono”. Kemudia lelaki itu pergi. “Setelah kejadian itu sekarang kesehatan saya membaik mas”.
Dalam hatiku bertanya-tanya, siapakah lelaki itu? Dan apa maksud dari cerita tadi? Masak iya ada malaikat ngomongnya pakai bahasa Madura? Tapi dengan spontanitas aku lalu tetap mengatakan pada Pak Udin kalau lelaki itu adalah malaikat. Dan Pak Udin berharap juga demikian.
Sungguh mengagumkan kisah tersebut. Aku lihat di segala pojok dinding rumah beliau terdapat gambar-gambar, foto-foto, dan aku pernah cerita kalau gambar dan foto tidak disukai malaikat sehingga malaikat enggan masuk ke dalam rumah-rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto. Itulah yang aku maksud mengagumkan. Malaikat boleh tidak mau masuk kedalam rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto tetapi malaikat itu sudah terlanjur masuk ke dalam rumah dalam hati Pak Udin dan tinggal di dalamnya. Sehingga tidak ada alasan malaikat itu tidak ngobrol dengan beliau. Malaikat betah dengan orang yang tutur katanya dan perilakunya  tawadhu’ atau rendah hati. Padahal jelas-jelas dia orang Madura tulen, buktinya aku lihat di salah satu dinding terdapat clurit dan ini salah satu ciri Madura kan? Tapi ini beda, ini adalah Madura yang ‘malaikatan’

Selasa, 27 Agustus 2013

OBROLAN BAPAK LAN TOLE


"Le,.nek tak pikir pikir,.. wong soale aku iso mikir,. 5 agama neng indonesia kui kok Import kabeh ya,.?"

"nggih nopo pak? kulo kinten nggih ngoten pak,.??

"la trus agamane asli gone dewe opo yo mbiyen ki??

"nek sak ngertos kulo sak derenge hindu budha niku pun wonten kepercayaan yen gusti niku siji seng disebut "sang yang tunggal"

"la nek kui sanes agama le,.kui mung konsep ketuhanan. tapi udu agama le,..neng kok simbah mbiyen wis gelem ngimport agama yo?? opo koyo pemerintah saiki seng seneng import bahan pokok,.padahal rakyate iso nek mung nyukupi we,.

"yo nggih ampun di padakke ngoten niku pak? yen mikir ngoten niku nggih klentu,.

" yo maksudku ora trus dipadakke plek ngono,.kowe kan yo wis gede mosok ra paham maksudku?

"Oo,.nggih-nggih kulo paham,.wah niki le mikir ngangge coro filsafat to,.

"nah gene ngerti,.kowe le,.!!!

OBROLAN DI BAWAH POHON TALOK

Sore itu aku pergi ke kampus yang berada di Ndalem Mangkubumen. Sekitar pukul 4 sore aku tiba di sana. Aku berhenti di bawah pohon talok untuk memarkirkan motorku. Tujuan aku ke kampus untuk menemui temanku yang sebelumnya memang sudah janji mau ketemu disini.
Sembari menunggu temanku yang belum datang, aku duduk-duduk dibawah pohon talok dan ngobrol-ngobrol dengan Pak Robi yang memang dari tadi sudah duluan duduk di situ. “pak, pripun pawartosipun? Sae? ( Pak, bagaimana kabarnya? Baik? ). “Nggih niki sae..( (iya, saya kabarnya baik). Pak robi ini adalah penjaga kampus sekaligus tukang resek-resik. Baru saja dia menyapu daun-daun lalok yang gugur.
Kami mengobrol soal keseharian, dan sangat umum. Obrolan kami sangat asik. Aku lebih suka mendengarkan Pak Robi cerita karena ceritanya sangat bermakna dan berbau sejarah dan budaya. Pak Robi boleh hanya tukang sapu tapi pengetahuannya tentang sejarah dan budaya apalagi berbau kraton sangat luas. Makaya aku seperti sedang kuliah kalau ngobrol bersama dia.
Hingga Pak Robi mulai bercerita kalau waktu Bulan puasa kemarin masjid Kadipaten didatangi oleh 8 orang alkacong / aliran kathok congklang ( alirang celana congklang ). 8 orang ini berasal dari pesantren jawa barat, tepatnya kurang begitu tahu. Dan mereka menetap sementara di masjid kadipaten untuk mengajarkan agama islam. Sebelumnya mereka suda mengantongi ijin dari berbagai pihak hingga akhirnya diperbolehkan oleh takmir masjid untuk menetap sementara di masjid.
***
Hari pertama, kedua, ketiga ceramah mereka masih masuk akal alias masih sama dengan pemahaman jamaah masjid. Namun di hari berikutnya mereka mulai berubah dan tegas dan mengharam-haramkan sesuatu yang dilakukan oleh jamaah. Pertama mereka melarang membunyikan beduk tanda akan  adzan mahgrib dan buka puasa. Alasanya tidak ada tuntunannya dalam islam. “ apa itu!! tidak ada tuntunannya dalam islam membunyikan beduk.!! Teriak salah seorang alkacong. “ Mas, memang dalam islam tidak ada tuntunannya tapi sejak dahulu membunyikan beduk sebelum adzan mahgrib sudah merupakan tradisi kami orang jawa dan itu merupakan budaya.” Salah satu jamaah menjelaskanya. Namun 8 alkacong itu tetap mengharam-haramkan.
Dihari ke tujuh mereka menghujat jamaah yang bersalaman seusai solat. “ apa itu!! tidak ada tuntunannya dalam islam bersalaman seusai solat!! Teriak salah seorang alkacong. Kembali jamaah menjelaskan bahwa ini hanyalah tradisi dari kami dan ini bukanlah tindakan yang jelek. Urusan amal diterima dan tidak itu urusan Allah. Yang penting kita tidak merugikan orang lain. “ Apa bapak yakin kalau solat bapak diterima Allah?” Tanya Alkacong. “ Ya, kalau menurut saya pasti diterima.” Jawab jamaah. “Tidak, solat bapak tidak akan diterima. Bapak ke masjid tahu nggak kalau masih suci? Harusnya bapak menggunakan pakaian seperti ini. Celana seperti ini.” Menunjukkan stelan pakaiannya.
Wargapun kemudian berembuk dan membuat keputusan kalau 8 alkacong itu harus segera angkat kaki dari masjid Kadipaten karena terlalu meresahkan para jamaah. Akhirnya Pak Takmir masjid menegaskan kepada para alkacong agar segera meninggalkan masjid kadipaten, karena jika tidak pergi Pak Takmir tidak menanggung reaksi apa yang terjadi dari masyarakat dan jamaah masjid Kadipaten. Akhirnya 8 alkacong itupun pergi meninggalkang masjid kadipaten.
***
Aku mendengar cerita dari Pak Robi jadi berpikir kok cerita seperti ini masih saja terus berulang. Ada alirang yang keras dengan ajaranya padahal sama-sama Islam? Tapi mana rahmatan lil 'alamin-nya?
Pak Robi kembali bercerita,” mas, dalu waktu seperti ini ngobrol-ngorol tentang agama, malamnya aku duduk sendiri disini tapi masih teringat cerita tadi pagi lalu bertanya sendiri. Agama asli kita itu apa sih? Semua agama itu import semua. Lalu agama asli milik kita itu apa?
Waduh, aku berpikir sejenak, iya juga ya,? Lalu aku mengucap,” emm,. Setahu saya sebelu agama Hindu dan Budha mulai menjadi agama kepercayaan di Jawa, Masyarakat jawa sudah mengenal Tuhan yang disebut sebagai “Sang Yang Tunggal”. Kemudian Pak Robi pun segera menjawab “Itu namanya kepercayaan mas,.bukan agama. Itu kepercayaan dalam konsep keTuhannan. Kalau itu saya tahu, bahwa leluhur kita itu sudah mengerti bahwa Tuhan itu satu “sang yang tunggal”. Tapi itu bukan agama. “iya,.ya,.bener juga? Jawabku.
“ Jadi mas, masyarakat jawa itu yang di sebut- sebut sebagai kejawen yang diharam-haramkan dan dinilai oleh sebagian umat muslim kita sebagai musrik,.itu bukan agama. Makanya sampai sekarang masyarakat masih berprasangka salah dengan kejawen. Kita itu agamanya Islam tulen asli,.tapi karena kecintaan kami terhadap leluhur kami dengan segala ritualnya,.ya kami lakukan. Karena sudah saya bilang itu bukan agama,.tapi hanyalah murni unsur tradisi dan kebudayaan. Kami tetap menjalankan syariat Islam sesuai perinta Agama, namun apa salah kami mencintai tradisi kami? Budaya kami? Selama niat kami itu benar seperti yang saya sampaikan tadi, gak ada masalah!! Agama juga tidak melarang!! Semua amal itu kan sesuai dengan ilmu dan niatnya. Allah kan sudah mentakdirkan kita sebagai orang Jawa, bukan orang Arab..maka jelas kita disuruh menjadi orang jawa. Jangan meng arab-arabkan orang Jawa. Lah,.mana lita'arafu nya, untuk saling mengenal. Lah,. rahmatan lil 'alamin-nya?
Pernyataan Pak Robi membuka lebih luas tentang pandanganku yang sempit selama ini. Memang kalau rahmatan lil 'alamin itu harus diartikan luas dan menjangkau segala lapisan masyarakat. Dan memang tradisi itu dimiliki oleh setiap suku-suku yang ada di dunia ini, selama tradisi dan budaya itu tidak melanggar syariat agama maka tidak menjadi persoalan. Karena semua hasil akhir menjadi urusan Allah.

Rabu, 12 Juni 2013

Dasar-dasar Falsafah Hidup Kejawen

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip,

Bèrbudi Bawaleksana,

Ngudi Sejatining Becik
Perpustakaan pelestarian budaya Yogyakarta

A. KETUHANAN

1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)

2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan)

3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan. (Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan)

4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi. (Tuhan itu abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi asal dan tujuan kehidupan)

5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran. (Tuhan itu bisa mewujud namun perwujudannya bukan Tuhan)

6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata.(Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu, mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak dan tidak tampak)
7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane. (Tuhan itu tidak membeda-bedakan (pilih kasih) kepada seluruh umat manusia)

8. Pangeran iku maha welas lan maha asih, hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran. (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi terpelihara berkat anugrah Tuhan)

9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake.(Tuhan itu Mahakuasa, takdir ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa membatalkan kehendak Tuhan)

10. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. (Kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan)

11. Pangeran iku ora sare. (Tuhan tidak pernah tidur)

12. Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan membagi anugrah yang berbeda-beda)

13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran.(Pasrah kepada Tuhan bukan berarti enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan Menentukan)

14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira. (Tuhan mencipta manusia dengan media ibumu, oleh sebab itu hormatilah ibumu)

15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae. (Yang bisa menjadi utusan Tuhan bukan hanya manusia saja)

16. Purwa madya wasana. (zaman awal/ sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman akhir/ keabadian)

17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad. (Berubahnya keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta alam)

18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake. (Tak ada kesaktian yang menyamai takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang bisa membatalkan)

19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan. (Bener yang menurut Tuhan itu bila tidak memiliki sifat angkara murka dan gemar membuat kesengsaraan orang lain)

20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa. (Kebenaran di dunia ada dua macam, yakni benar menurut Tuhan dan benar menurut penguasa)

21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran. (Benar menurut penguasa juga memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan)

22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala. (Kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara)

23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran. (Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari Tuhan).

24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran. (Keburukan dan kebaikan merupakan satu kesatuan, semua itu sudah menjadi rumus/kehendak Tuhan)

25. Manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran. (Manusia berasal dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat-sifat Tuhan)

26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran.(Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka janganlah melukiskan dan menggambarkan wujud tuhan)

27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran. (Tuhan berkuasa tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap manusia menjadi wakil Tuhan di bumi)

28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa. (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu manusia hanyalah bisa)

29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa. (Tuhan mampu merubah keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/perumpamakan)

30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake. (Tuhan mampu merusak keadaan yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat keadaan baru yang diperlukan)

31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran. (Batu dan kayu adalah milik zat Tuhan, namun bukanlah Tuhan)

32. Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran. (Di dalam manusia dapat bersemayam zat tuhan, akan tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut Tuhan)

33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus. (Makhluk halus dan makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk halus, namun juga jangan menghina makluk halus)

34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus. (Semua yang tampak oleh mata termasuk makhluk kasat mata, sedangkan lainnya termasuk makhluk halus)

35. Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa. (Tuhan memenangkan manusia walaupun seperti apa manusia itu)

36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau. (Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi makhluk halus)

37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah. (Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila manusia tidak punya permohonan kepada Tuhan agar makhluk halus menampakkan diri)

38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran. (Siapa yang berani merubah keadaan yang terjadi, bukanlah sembarang orang, namun sebagai “utusan” Tuhan)

39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. (Siapa saja yang bersedia melaksanakan kebaikan dan juga mau “lelaku” prihatin, kelak akan memperoleh anugrah Tuhan)

40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur. (Siapa yang belum paham, lalu menganggap sipat kandel itu sebagai rambu-rambu hidup, yang demikian itu sesungguhnya belum memahami bila di dunia ini ada yang mengatur)

41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuwasa. (Semua ilmu berasal dari Tuhan yang Mahakuasa)

42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu urip kang sempurna. (Siapa yang mengetahui adanya Tuhan, termasuk hidup dalam kesempurnaan).




B. KEBATINAN


1. Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. (Lahirnya manusia karena berkat adanya kedua orang tua)

2. Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran. (Di dalam manusia tedapat sifat-sifat Tuhan)

3. Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitulungi manungsa, kapat kang ora bisa mrentah manungsa nanging ya ora bisa mrentah manungsa.

(Makhluk halus ada empat macam, pertama ; yang bisa memerintah manusia namun bisa juga menolong manusia. Kedua; yang bisa memerintah manusia namun tidak bisa menolong manusia. Ketiga ; yang tidak bisa memerintah manusia namun bisa menolong manusia. Keempat ; yang tidak bisa memerintah anusia namun juga tak bisa diperintah manusia.

4. Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi. (Makhluk halus ada dua macam; yang mencelakai dan yang menolong)

5. Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani. (Guru Sejati bisa memberikan petunjuk mana makhluk halus yang bisa menolong dan mana yang mencelakakan)

6. Ketemu Gusti iku lamun sira tansah eling. (“Bertemu” Tuhan dapat dicapai dengan cara selalu eling)

7. Cakra manggilingan. (Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan)

8. Jaman iku owah gingsir. (Zaman akan selalu mengalami perubahan)

9. Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati.(Tuhan berada di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu disebut Gusti (bagusing ati)

10. Sing sapa nyumurupi dating Pangeran iku ateges nyumurupi awake dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pangeran. (Siapa yang mengetahui zat Tuhan berarti mengetahui dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang belum memahami jati dirinya sendiri maka tidak mengetahui pula zat Tuhan)

11. Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini. (Keadaan dunia tidaklah abadi, maka jangan mengagungkan kekayaan dan derajat pangkat, sebab bila sewaktu-waktu terjadi zaman serba berbalik tidak menderita malu)

12. Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah. (Keadaan yang ada sekarang ini tidak akan berlangsung lama pasti akan mengalami perubahan, maka dari itu janganlah lupa kepada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan)

13. Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune. (Bila kamu ingin mengetahui alam di zaman kelanggengan. Kamu harus memahami alam jati diri (jagad alit), bila kamu belum paham jati dirimu, maka akan sulit untuk menemukan (alam kelanggengan)

14. Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan. (Jika kamu sudah memahami jati diri, maka ajarilah orang-orang yang belum memahami)

15. Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. (Bila kamu sudah mengetahui sejatinya diri pribadi, tempat zaman kelanggengan itu seumpama dekat tanpa bersentuhan, jauh tanpa jarak)

16. Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan. (Bila anda belum paham jati diri pribadi, datang dan tanyakan kepada orang yang telah paham)

17. Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi. (Bila anda belum paham saudaramu yang sejati, carilah hingga ketemu dirimu pribadi)

18. Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe. (“Saudara sejati” mu tidak berbeda dengan diri pribadimu, bersedia bekerja)

19. Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti. (Pintalah Tuhan bila anda sedang menderita kesengsaraan, pujilah bila anda sedang menerima anugrah)

20. Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut. (Bila anda sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus, pasti anda tidak akan menghina dan mencela orang yang sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus)

21. Sing sapa nyembah lelembut iku keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pangeran. (Siapa yang menyembah lelembut adalah tindakan keliru, sebab lelembut sesungguhnya teman mu sendiri)

22. Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran. (Memahami tuhan berarti sudah memahami diri sendiri, jika belum memahami jati diri, mustahil akan memahami Tuhan)

23. Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe. (Siapa yang gemar merusak ketentraman orang lain, pasti akan dihukum oleh Tuhan dan dipermalukan oleh perbuatannya sendiri)

24. Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pangeranira, jalaran Pangeranira bakal aweh pitulungan. (Walaupun mengalami zaman susah, namun janganlah lupa mohon ampunan kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan pertolongan)

25. Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling.(Tuhan ada di dalam diri pribadi, dapat anda ketemukan dengan cara selalu eling)

C. FILSAFAT KEMANUSIAAN

1. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana. (Giat bekerja/membantu dengan tanpa pamrih, memelihara alam semesta /mengendalikan nafsu)

2. Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane. (Manusia sekedar menjalani apa adanya, seumpama wayang)

3. Ati suci marganing rahayu. (Hati yang suci menjadi jalan menuju keselamatan jiwa dan raga)

4. Ngelmu kang nyata, karya reseping ati. (Ilmu yang sejati, membuat tenteram di hati)

5. Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi. (Menghayati perilaku mulia dengan budi pekerti luhur)

6. Jer basuki mawa beya. (Setiap usaha memerlukan beaya)

7. Ala lan becik dumunung ana awake dhewe. (Kejahatan dan kebaikan terletak di dalam diri pribadi)

8. Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan. (Siapa yang lupa akan amal baik orang lain, bagaikan binatang)

9. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana. (Ciri khas orang mulia yakni, perbuatan dan sikap batinnya halus , tutur kata yang santun, lapang dada, dan mempunyai sikap wibawa luhur budi pekertinya)

10. Ngunduh wohing pakarti. (Orang dapat menerima akibat dari ulahnya sendiri)

11. Ajining dhiri saka lathi lan budi. (Berharganya diri pribadi tergantung ucapan dan akhlaknya)

12. Sing sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sepadha-padhaning tumitah iku kalebu utusaning Pangeran. (Siapa yang mengetahui sebelum terjadi dan diakui sesama manusia, ia termasuk utusan tuhan)

13. Sing sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih. (Siapa yang belum paham adanya zaman keabadian, jangan mengaku menjadi orang linuwih)

14. Tentrem iku saranane urip aneng donya. (Ketenteraman adalah sarana menjalani kehidupan di dunia)

15. Yitna yuwana lena kena. (Eling waspdha akan selamat, yang lengah akan celaka)

16. Ala ketara becik ketitik. (Yang jahat maupun yang baik pasti akan terungkap juga)

17. Dalane waskitha saka niteni. (Cara agar menjadi awas, adalah berawal dari sikap cermat dan teliti)

18. Janma tan kena kinira kinaya ngapa. (Manusia sulit diduga dan dikira)

19. Tumrap wong lumuh lan keset iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajur iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara. (Bagi manusia, fakir dan malas menjadi bisa/racun, makanan yang tak bisa hancur dapat disebut sebagai bisa/racun, sebab hanya akan menimbulkan penyakit)

20. Klabang iku wisane ana ing sirah. Kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan. (Racun bisa Lipan terletak di kepala, racun bisa kalajengking ada di ujung ekor, racun bisa ular hanya ada pada ular yang berbisa, namun manusia durjana racun bisanya ada di sekujur badan)

21. Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loro, isih kalah panas tinimbang guneme durjana. (Nyala api panasnya melebihi panas matahari, namun demikian umpama panas dilipatgandakan, masih kalah panas daripada ucapan orang durjana)

22. Tumprape wong linuwih tansah ngundi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe. (Bagi orang linuwih selalu berupaya menjaga keselamatan untuk sesama, yang keluar dari niat suci diri pribadi)

23. Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran. Pangucap uga dadi jalaraning wirang. (Ucapan itu dapat menjadi sarana kebaikan, sebaliknya ucapan bisa pula menyebabkan kematian, kesengsaraan. Ucapan bisa menjadi penyebab menanggung malu)

24. Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah; 2) bandha, 3) dharah luhur; 4) enom umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur dharah lan isih enom umure, mangka ora mendem, yakuwi aran wong linuwih. (Penyebab orang menjadi lupa diri adalah : gemerlap hidup, harta, kehormatan, darah muda. Arak dan minuman juga membuat mabuk sementara orang. Namun bila ada orang kaya, tampan rupawan, banyak kepandaiannya, hartanya melimpah, terhormat, dan masih muda usia, namun semua itu tidak membuat lupa diri, itulah orang linuwih)

25. Sing sapa lena bakal cilaka. (Siapa terlena akan celaka)

26. Mulat salira, tansah eling kalawan waspada. (Jadi orang harus selalu mawas diri, eling dan waspadha)

27. Andhap asor. (Bersikap sopan dan santun)

28. Sakbegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada. (Seberuntungnya orang lupa diri, masih lebih beruntung orang yang eling dan waspadha)

29. Sing sapa salah seleh. (Siapapun yang bersalah akan menanggung celaka)

30. Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. (Bertanding tanpa bala bantuan)

31. Sugih ora nyimpen. (Orang kaya namun dermawan)

32. Sekti tanpa maguru. (Sakti tanpa berguru, alias dengan menjalani laku prihatin yang panjang)

33. Menang tanpa ngasorake. (Menang tanpa menghina)

34. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. (Yang mengganggu akan lebur, yang menghalangi akan hancur)

35. Mumpung anom ngudiya laku utama. (Selagi muda berusahalah selalu berbuat baik)

36. Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan. (Jika kamu menerima kebaikan orang lain, tulislah di atas batu supaya tidak hilang dari ingatan. Namun bila kamu berbuat baik kepada orang lain hendaknya ditulis di atas tanah, supaya segera hilang dari ingatan)

37. Sing sapa temen tinemu. (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

38. Melik nggendhong lali. (Pamrih menyebabkan lupa diri)

39. Kudu sentosa ing budi. (Harus selamat ke dalam jiwa)

40. Sing prasaja. (Menjadi orang harus bersikap sabar)

41. Balilu tau pinter durung nglakoni. (Orang bodoh yang sering mempraktekan, kalah pandai dengan orang pinter namun belum pernah mempraktekan)

42. Tumindak kanthi duga lan prayogo. (Bertindak dengan penuh hati-hati dan teliti/tidak sembrono)

43. Percaya marang dhiri pribadi. (Bersikaplah percaya diri)

44. Nandur kebecikan. (Tanamlah selalu kebaikan)

45. Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik.(Manusia linuwih adalah dapat mengetahui adanya zaman keabadian tanpa harus mati lebih dulu)

46. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran.(Siapa yang hanya mengakui hal-hal kasat mata saja, itulah orang yang belum memahami sejatinya Tuhan)

47. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking. (Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)

48. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake. (Barang siapa gemar membuat orang lain bahagia, anda akan mendapatkankan balasan yang lebih besar dari apa yang telah anda lakukan)

Sumber: Sabda Langit

Senin, 18 Maret 2013

Ambigu Yang Subyektif

Suatu subyek yang menyorot ke arahku membuat bermacam persepsi. Seolah akulah tujuan dari masalah yang terjadi. Kotor pemikirannya dan tolol pemikiranku. Lebih seperti sampah yang terinjak terludah. Saat malam aku membaca dari kotak mesin kecil, semua begitu jelas dan ringan. Aku lah subyeknya. Aku subyekmu teman. Semua terlihat aku yang salah dan itu benar tapi bukan pembenaran. Tolong jangan nilai sesuatu sebagai subyek yang jelas, karena aku terlihat bangsat, padahal kau tidak mengenal aku. Malam kedua aku tanyakan pertanyaan yang harus kutanyakan. Dia mulai manjelaskan dengan detail dan detail. Hingga lahir sebuah perspektif bahwa aku memang bangsat. Tuhan,.bantu aku memahami siapa aku,.agar dia tidak menilai aku sebagai pemikiran subyektifnya yang salah.

11:09 
Maret 18, 2013

Kamis, 14 Maret 2013

Renungan Hidup

Pertanda apakah falsafah hidupku? mimpi atau hal yang nyata? tersentak aku mendengar kalimat tanya dan ungkapan sinis dari mulut itu. seperti menusuk perasaan yang tadinya bertahan menjadi tertahan. Lupakan urusan orang lain, kau menganggap orang lain mati tak punya ambisi dan perasaan. Lidah sudah keluar dan tangan mulai menulis dan aku membaca.
Tuhan, dengan sekejap mata aku tergores oleh cacian dan sindirannya,.dan luka ini sangat terasa sakit. Obat apa yang bisa menyembuhkan sakit ini ya Tuhan,.? Aku ingin merubah pandangan yang tidak biasa, tapi dunia memalingkan wajahnya, selalu seperti itu. Apakah aku harus tertunduk, muntah dan mengumpat, sumpah serapah pada otakku? Lidah kupotong agar aku diam dan tidak membalas apa yang dia sindirkan.
Seperti sore tadi, lalu luntas pikiranku terhambat dan tertilang oleh kalimat yang selalu subyektif. Aku benci subyektif aku tidak suka memasang dan menkotak-kotakkan konsep yang dibuat oleh instansi. Dan aku benci instansi yang mencetak lulusan keledai. semua hanyalah ilmu basi, semakin dikonsumsi semakin berpenyakit.
Dia bilang orang sepertiku hanya mencari pangkat? padahal 1 detikpun aku belum bisa mendefinisikan apa itu pangkat, bagaimana aku bisa mencari pangkat? tolol, itu yang aku maksud dengan keledai. hanya bisa makan tapi sangat bodoh.
Hidup itu bukan soal pangkat dan uang. apa kamu lupa dengan konsep bersyukur?manusia punya akal dan pikiran kenapa hanya nafsu yang menjadi tujuan?aku gak tahu lagi harus menulis apa, Ya Tuhan maafkan aku jika selama ini masih menjadi tersesat.