Minggu, 15 September 2013

ASHAR

Waktu menunjukkan tepat pukul 15.00 WIB. Aku mendengar suara itu, suara yang pasti akan terus aku dengar selama aku masih hidup. Suara itu terdengar dimana-mana, namun kali ini di dalam kamarku terdengar sangat pelan sekali, namun masih sedikit terdengar olehku. Karena memang kamarku terletak pada tempat yang dekat dengan sungai pinggir ‘kali gajah wong’ di bawah lembah. Wajar jika suara-suara itu kurang begitu terdengar disini. Ya,.suara itu adalah suara ‘adzan Ashar’.
Namun aku masih duduk terdiam di sini, di dalam kamarku yang pengap tempatku biasa menyendiri. Baru saja aku pulang dari kerja dan masih lelah. Pada saat selesainya adzan ashar itu, aku tidak segera bergegas mengambil air wudhu untuk sholat melainkan masih tetap diam disini. Gelisah memang dalam hati ini, tapi kubiarkan mereka seperti itu. Aku memang tidak sholat ‘tepat waktu’ seperti mereka yang menjalankannya. Aku belum siap !!!
Dalam hatiku, dalam pikiranku dan dalam jiwa ragaku akan bertemu dengan yang maha Agung Allah. Namun aku yang belum siap ini jika dipaksakan untuk berkomunikasi ‘sholat’ maka aku tidak bisa merasakan nikmat dan indahnya melakukannya. Tempatku untuk sholat kotor, harus aku bersihkan dahulu. Tubuhku ini juga masih kotor, paling tidak aku perlu mandi. Aku yakini ini bukan menunda waktu sholat. Karena sholat untuk orang yang siap. Siap segalanya dari lahir dan batin, karena itu merupakan metode kita berkomunikasi dengan Allah. 

Kamis, 12 September 2013

PUISI

JASAD
Oleh : Novi Maulana
Ketika tubuh kosong tergeletak diatas bumi
Hujan deras air mata melucuti nyali
Tercabik-cabik ruang jasad halusinasi hati
Memecah belah takdir  dalam suatu persepsi

Lalu kemana tubuh akan berlari
Dari mata yang terbang dengan sayap putih
Menuntun tanah kembali kedalam tanah
Melebur  hancur  magma menuju surga

Senin, 09 September 2013

PUISI

DARI IBU PERTIWI
Oleh: Novi Maulana
Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi semakin tua?
Sudah 68 tahun umurnya
Sudahkah engkau sekali saja menengoknya?
Menanyakan kabarnya hari ini
Mendengar keluh kesahnya, mendengar rintihan tangisnya

Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi selalu mendoakanmu?
Sudah sejak proklamasi dahulu
Sudahkah engkau sekali saja mengingatnya?
Datang kepadanya hari ini
Mencium tangannya, memeluk tubuhnya yang semakin rapuh

Sadarkah engkau bahwa ibu pertiwi tidak pernah mengeluh untukmu?
Selalu memberimu kasih sayang
Tidakkah engkau mau menbalasnya?
Mengabdi kepadanya, dengan pengabdian yang jujur

Tapi ibu pertiwi tidak pernah minta apa-apa darimu
Sudah menjadi pilihannya untuk membesarkanmu
Menjadikanmu pemimpin atas dirimu
Lalu kemudian engkau mengacuhkannya

Minggu, 08 September 2013

KONSEP BAHAGIA

Pagi ini setelah aku pahami dengan jujur tentang kedewasaan diri yang merayap dalam situs metropolitan duniawi, kemudian aku terdiam sejenak. Dalam diamku itu, terpikirkan tentang begitu gampangnya mereka mendapatkan manisnya dunia. Begitu nikmat hidup mereka karena berkuasa dan memiliki semua yang tidak aku miliki. Sungguh nikmat dan bahagia rasanya.
Seperti aku mendengar kutbah solat jum’at  yang kalimatnya tidak pernah berubah yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’”. Sepertinya, ‘bahagia’ yang dimaksud mungkin buat mereka? Sedangkan buatku? Kalau kita pahami pembukaan kutbah itu seperti sindiran yang stagnasi karena kalimatnya tidak pernah berubah. Dari dulu sampai besok seterusnya seperti itu terus.
Adilkah ini? Jika melihat dari sisi pandangan dari sini memang tidak adil. Akan tetapi aku ingin lebih bisa melihat dari dekat, dari kedua mataku yang sakit ini. Ini seperti nonton siaran TV, dari jauh kurang jelas tapi didekati mataku jadi berair, tapi tetap tidak tahu situasi yang sebenarnya karena TV ku hanya 21 inci. Seandainya aku bisa masuk ke dalam TV dan melihat-lihat situasi di sana.
Aku mengusap-usap kaca mataku ini, dan inilah yang Allah berikan kepadaku kedua mata yang mampu untuk melihat dengan jelas dengan bantuan kaca mata. Aku harus bersyukur dari sini. Bahagiaku dengan bahagia mereka sangat berbeda. Tapi arti bahagia itu seperti apa? Dan bagaimana aku mengartikannya?
Apakah bahagia bagiku itu tertawa,. Tapi mereka juga tertawa. Apakah bahagia bagiku itu bisa tidur nyenyak,.Tapi kasur mereka lebih nyaman. Apakah bahagia bagiku bisa makan hari ini,.Tapi makanan mereka lebih enak. Artinya semua manusia punya kebahagiaan yang takarannya berbeda-beda.
Bahagia, gembira dan berlanjut bersyukur ataupun sebaliknya bersyukur, gembira ban bahagia. Semua ini dari manusia sendiri, dari pembawaan pikiran dan hati manusia. Manusia mampu mengelola kebahagiaan itu karena mempunyai akal dan pikiran. Sedangkan yang menciptakan manusia itu adalah Allah, maka sebenarnya kebahagiaanku datangnya dari Allah. Jika aku senantiasa mengingat kebesaran Allah, maka ketakutanku dan kesedihanku lebih kerdil dari kebahagiaanku mengingat Allah.

Jadi tidak masalah bagiku setelah ini mendengar kutbah jum’at yang bunyinya “Para hadirin jamaah yang ‘berbahagia’” karena konteksnya jelas, waktunya pas aku sedang mengingat Allah dan aku berbahagia mengingat Allah. Yah, memang aku harus pahami kedewasaan ini. Membuka ruang imajiner dalam kantong cakrawala kehidupan ini. 

Kamis, 29 Agustus 2013

MY ADVENTURE IS 'HUTANG'

Ini dunia sudah aneh. Kita gak punya uang di paksa untuk membeli! dan waktu punya uang malah disuruh utang!  Udah keblinger menungsane kalau caranya seperti ini. Saya jadi teringat ramalan Jayabaya ‘Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman’. Kenyataanya memang demikian. Ini pengalamanku sendiri ketika saya akan membeli pulsa 10 ribu dengan harga 11 ribu, waktu itu saya bayar dengan uang 12 ribu tapi bakulnya gak mau terima uang yang 2 ribunya dan hanya mengambil uang yang 10 ribu saja, alasanya “ wah mas, gak ada kembalian seribu”. Dengan alasan gak punya kembalian yang hanya barang seribu perak dia dengan seenaknya memaksa aku untuk utang seribu. Ini piye to ? ini aku ada uang, malahan lebih? tapi malah dipaksa utang? Asu..!!!
Masya Allah, kok ya jadi begini to jadinya? “Indonesia,,,Indonesia” bangsamu kok jadi bangsa yang seenak udele dewe. Serasa sudah umum dan memang begitu adanya sekarang ini. Lah, ini masalah sepele, coba kalau malasah ini jadi kebiasaan dan dilakukan dimana-mana. Suatu ketika misalnya ingin beli motor, dan saya punya uang pas dan cukup untuk beli secara kontan. Tapi pihak dealernya bersikeras untuk menjual motornya secara kredit. Kan podo le asu to?
Kalau kita cermati memang dijaman sekarang ini manusia dipaksa untuk terbiasa berhutang. Berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang seribu untuk beli rokok 1 batang, berhutang untuk bayar hutang, berhutang kreditan motor, mobil, rumah bahkan sekarang ada arisan simpan pinjam alias ngutangke. Artinya kita dididik secara sosial untuk terbiasa berhutang. Ya memang kalau benar-benar gak punya uang sepeserpun harus utang. Tapi kalau punya uang tapi karena sudah terbiasa hutang atau dihutangi ya utang lagi. Pokoknya tiada hidup tanpa utang. ‘Life is utang’ atauMy adventure is utang’.
Ini tiadak masalh sih sebenarnya, selama sanggup untuk membayarnya. Tapi kalau jadi kebiasaan juga,..Masalahnya gini hutang itu sebenarnya termasuk janji. Karena berfaham dari “janji adalah hutang” maka jelas bahwa hujang itu adalah janji, maka janji jelas harus ditepati. Karena kalau tidak ditepati akan terus-terusan ditagih. Tidak hanya di dunia pertanggungjawabanya, tapi juga di akhirat dan kepada Tuhan. Makanya ini menjadi masalah serius sebenarnya, kalau kita semua paham dan mau memahami.

Rabu, 28 Agustus 2013

MADURA YANG 'JAWA' DAN 'MALAIKATAN'

Di kampungku ada orang Madura yang sangat rajin solat ke masjid. Beliau bernama Zainudin, panggil saja Pak Udin. Seringnya dia ke masjid dan bersosial dengan masyarakat akhirnya membuat dia menjadi orang yang disegani. Di masjid dia di ‘dapuk’ menjadi imam tetap masjid kecuali beliau berhalangan, misalkan sakit atau ada urusan yang tidak bisa ditunda. Dia tidak seperti orang Madura yang konon seperti ‘itu’, tapi beliau sangat sopan dan lembut dalam tutur katanya.
Saya berpikir dia itu orang jawa yang berlogat menyamar jadi orang Madura. Tetapi logatnya itu terlihat bahwa dia Madura tulen, tapi sikapnya dan prilakunya juga Jawa sekali. Kecurigaan saya bukan tanpa alasan, karena orang Madura terkenal dengan sikap yang keras dan tegas serta berani, sedangkan Pak Udin hanya logatnya saja yang Madura walaupun kalau berbahasa dia selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Hari ini dia tidak ke masjid untuk ibadah solat mahgrib. Dan aku kemudian diajak oleh tiga orang temanku untuk menjenguk beliau. Sebelumnya aku cuek dengan Pak Udin, mau dia ke masjid ataupun tidak bukan urusanku. Dan aku juga tidak tahu kalau beliau sekarang sedang sedang sakit.
*****
Akhirnya aku dan ketiga temanku mendatangi rumah Pak Udin untuk menjenguknya. Beliau hanya seorang pendatang dan saya tahu kalau dia hanya ngontrak di kampungku. Sesampainya kita di kontrakan beliau, pas di depan rumahnya sebelum masuk melihat ke dalam rumah, terlihat laki-laki yang terbaring lemah di bawah, di atas kasur yang sudah kempes, dialah Pak Udin.
 “Assalamualaikum”salam kami ucapkan. “ Waalaikumusalam, Oo,..mari sini mas masuk. Aduh tempatnya kotor ya,.” Istri Pak Udin menjawabnya dengan tambahan basa-basi khas nusantara.Kami masuk dan segera duduk disamping Pak Udin yang terbaring.” Bagaimana pak, apa sudah mendingan sakitnya dan sudah membaik?”, Aku mengawali pembicaraan untuk memecah suasana.” Alhamdulillah sudah agak membaik mas.” Jawab beliau namun masih dalam posisi terbaring. Kemudian beliau memanggil anaknya untuk membantunya bangkit dari tidur dan duduk untuk menjamu kami.” Aduh pak, buat istirahat saja”, kataku. “Nggak apa-apa mas, saya sudah lebih baik sekarang”, jawabnya.
Suasana hening sejenak, dan akhirnya aku kembali bertanya,” hari ini sudah minum obat pak?”. “ Ya,. Sudah tadi sore mas”. Aku heran pada teman-temanku ini, mereka yang mengajak menjenguk, tapi sudah sampai sini malah pada ‘membatu’. Harusnya mereka lebih aktif menanyakan keadaan kesehatan Pak Udin.
*****
Pak Udin mulai bercerita kalau kemarin waktu dia berbaring sakit seperti didatangi oleh lelaki berkulit putih dan berpakaian putih, pokoknya semua serba putih. Lelaki itu duduk di samping bantal yang gunakan Pak Udin tidur. Lelaki itu berkata” Kepinginanmu ki opo to,.rek?”. “ Pengingku anak karo bojoku sehat dadi arek seng soleh”. “ Yo wis,. sesok anak karo bojomu bakalan koyo ngono”. Kemudia lelaki itu pergi. “Setelah kejadian itu sekarang kesehatan saya membaik mas”.
Dalam hatiku bertanya-tanya, siapakah lelaki itu? Dan apa maksud dari cerita tadi? Masak iya ada malaikat ngomongnya pakai bahasa Madura? Tapi dengan spontanitas aku lalu tetap mengatakan pada Pak Udin kalau lelaki itu adalah malaikat. Dan Pak Udin berharap juga demikian.
Sungguh mengagumkan kisah tersebut. Aku lihat di segala pojok dinding rumah beliau terdapat gambar-gambar, foto-foto, dan aku pernah cerita kalau gambar dan foto tidak disukai malaikat sehingga malaikat enggan masuk ke dalam rumah-rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto. Itulah yang aku maksud mengagumkan. Malaikat boleh tidak mau masuk kedalam rumah yang terdapat gambar-gambar atau foto-foto tetapi malaikat itu sudah terlanjur masuk ke dalam rumah dalam hati Pak Udin dan tinggal di dalamnya. Sehingga tidak ada alasan malaikat itu tidak ngobrol dengan beliau. Malaikat betah dengan orang yang tutur katanya dan perilakunya  tawadhu’ atau rendah hati. Padahal jelas-jelas dia orang Madura tulen, buktinya aku lihat di salah satu dinding terdapat clurit dan ini salah satu ciri Madura kan? Tapi ini beda, ini adalah Madura yang ‘malaikatan’

Selasa, 27 Agustus 2013

OBROLAN BAPAK LAN TOLE


"Le,.nek tak pikir pikir,.. wong soale aku iso mikir,. 5 agama neng indonesia kui kok Import kabeh ya,.?"

"nggih nopo pak? kulo kinten nggih ngoten pak,.??

"la trus agamane asli gone dewe opo yo mbiyen ki??

"nek sak ngertos kulo sak derenge hindu budha niku pun wonten kepercayaan yen gusti niku siji seng disebut "sang yang tunggal"

"la nek kui sanes agama le,.kui mung konsep ketuhanan. tapi udu agama le,..neng kok simbah mbiyen wis gelem ngimport agama yo?? opo koyo pemerintah saiki seng seneng import bahan pokok,.padahal rakyate iso nek mung nyukupi we,.

"yo nggih ampun di padakke ngoten niku pak? yen mikir ngoten niku nggih klentu,.

" yo maksudku ora trus dipadakke plek ngono,.kowe kan yo wis gede mosok ra paham maksudku?

"Oo,.nggih-nggih kulo paham,.wah niki le mikir ngangge coro filsafat to,.

"nah gene ngerti,.kowe le,.!!!