Sabtu, 29 Desember 2012

Mencari Kebebasan


 

Aku merasa dalam diriku menginginkan kebebasan. Rutinitas kerja di tambah kuliah sore plus tugas-tugas yang seabrek,membuat pikiranku stress. Aku menyapa pikiranku dan bertanya,”hey apakah semua ini bermanfaat bagiku?lalu apa manfaatnya bagiku?dengan penasaran aku bertanya seperti itu.

Pulang ke rumah dengan membawa beban berat pikiran ditambah beban tasku yang juga berat,langsung aku masuk kamar. Aku melihat di pojok ruang kamarku aquarium kecil dengan ikan gupy peliharaanku. Ku dekati dan semakin mendekat. Ku beri mereka makanan dan merekapun berebut makanan yang aku kasih. Aku merenung sebentar dan berkata pada pikiranku” Lingkungan mereka hanya sebatas aquarium kecil, tetapi mereka berenang kesana kemari seperti tidak ada beban.”

Aku rebahkan badanku ke kasur dan mulai berhayal tentang kebebasan. Kebebasan itu sebenarnya apa?apakah seperti burung yang terbang ke angkasa?sebenarnya aku ini bebas atau tidak bebas?Padahal aku sering camping ke pantai, namun bebasnya hati ini hanya terasa sementara. Lalu apa yang membuat kebebasan hakiki hati ini?

Kata salah satu temanku, Tuhanlah yang membolak balikkan perasaan hati manusia. Tapi pikirku tidak ingin menyalahkan Tuhan. Kebebasan mungkin adalah formula yang harus aku pecahkan sendiri. Aku bertanya-tanya dengan pikiranku  tentang konsep kebebasan. Semakin aku cari kebebasan, semakin aku menderita karena tidak menemukan kebebasan.

Sementara tugas kuliah semakin menumpuk dan aku semakin malas untuk mengerjakanya. Malam hari aku putuskan untuk tidur dan bangun pagi-pagi untuk mengerjakan tugas kuliah,.namun keesokan harinya malah aku bangun jam 10 siang. Hal tersebut berlangsung berulang-ulang kali. Aku semakin terpuruk dalam tugas-tugas kuliah dan tugas kantor.

Aku kembali pulang ke rumah dan langsung masuk ke dalam kamar. Kembali aku melihat ikan gupyku yang berenang di dalam aquarium miniku. Aku kembali merenung dan tiba-tiba seperti ada yang menjawab penasaranku tentang konsep kebebasan. Seperti ikanku yang hanya sebatas aquarium kecil, tetapi mereka berenang kesana kemari seperti tidak ada beban. Ternyata dicari kesana kemari, kebebasan itu hanya ada dalam hati dan pikiran saja. Semakin kita bisa membebaskan hati dan pikiran, dimanapun kita bereda maka akan terasa tidak ada beban.mungkin itu yang namanya ikhlas.

 

Rabu, 12 Desember 2012

Menyempurnakan manusia


Dalam setiap pribadi manusia pada dasarnya terdapat keinginan untuk menguasai jiwa-jiwa kebodohan orang lain. Manusia menganggap manusia yang lain lebih bodoh dan lebih rendah derajatnya dari pada dia. Bahkan jika pada suatu kesempatan terjadi interaksi antara guru dan murid pun juga demikian. Murid “seolah-olah” akan melecehkan gurunya dan mengaggap gurunya itu bodoh. Tentu saja sebaliknya juga demikian, guru selalu mengaggap murudnya bodoh, walaupun tidak diungkapkan. Sepertinya seperti ada yang salah dalam diri manusia. Seperti sudah naluri, mungkin ini yang disebut nafsu? Atau ini bujukan dari iblis?


Seperti baru baru ini yang saya alami waktu sedang duduk duduk santai bersama teman satu kantorku di jam istirahat kantor. Waktu itu suasana sangat santai dan temanku memulai pembicaraan ringan.“ Sahruk khan ternyata seorang muslim ya? Tapi kok istrinya hindu,..? ha,.ha,.ha berarti dia belum mengerti”.Lalu temanku yang lain yang juga sedang duduk duduk, menanggapinya.” Iya,.ya itu sama saja zina seumur hidup donk”. Ketika aku mendengar percakapan itu, aku meresponnya dengan bertanya.” Memangnya ada larangan ya,.menikah berbeda agama?” Pertanyaanku cukup sederhana hanya sesederhana itu tetapi mereka merespon dengan menasehati aku.

Ya mungkin wajar aku bertanya, karena memang aku belum tahu dan mungkin aku masih terbawa logika, laki-laki dan wanita ciptaan Tuhan kenapa tidak boleh menikah? Toh sama-sama mahkluk-Nya, yang tidak boleh justru menikah dengan selain manusia. Aku hanya berfikir kalau itu semua sudah ada jalannya masing-masing. Akan tetapi temanku menilai pendapatku sangat dangkal.

 
Hal ini yang aku sadari sebagai bentuk anarki yang ada dalam diri manusia. Kita cenderung berfikir dan bertindak seenaknya tanpa mengerti dan mau memahami pendapat atau pikiran orang lain. Padahal jika kita mau membongkar system anarki yang telah kita bangun selama ini dan menggantinya dengan system toleransi, kita tidak akan saling melecehkan satu sama lain. Karena pada hakekatnya kita adalah mahkluk Tuhan yang diciptakan paling sempurna. Maka sesama sempurna haruslah saling menyempurnakan.

 

Sedikit KeSoktahuanku di Pameran

Suatu kehormatan aku bisa menghardiri pameran indobuildtech di JEC. Saat melihat kepenatan kuliah yang tidak cukup puas dengan tugasnya, meraung keras menunggu untuk dikerjakan, akhirnya aku bisa mengikuti pameran tersebut dan diberi mahkota kehormatan untuk menjaga salah satu standnya. Kebetulan aku menjaga stand IAI ( ikatan arsitektur indonesia ) bekerja sama dengan PAMIY ( paguyupan arsitek muda indonesia yogjakarta ). Beribu manusia menghanyutkan dirinya membentuk sinergi yang berpengaruh dalam sirkulasi energi bertumpah meruang di beberapa stand.

Ada beberapa orang datang dan berkonsultasi di klinik arsitektur stand kami. berbagai pertanyaan terlontarkan terkait tentang persoalan arsitektur. Dan aku harus menjawab apa? karena aku hanya mahasiswa semester 1?!Tapi dengan kesoktahuanku dan sedikit kesombongan yang harus kumiliki aku jawab semua pertanyaan itu.Terkadang sikap sombong harus dimiliki oleh manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Walaupun nantinya muncul berbagai masalah di jalan. Tapi, hey,..bukankah Tuhan memberikan ujian kepada hambanya sesuai porsinya, dan tidak akan menguji di luar batas kemampuanya? paling tidak itu yang aku pikirkan pada waktu saat itu.

Kata-kata mereka yang bingung dengan jawabanku, seperti sebuah mesin jahat yang tajam menikam diriku. Dengan sekejab tubuhku sudah penuh dengan luka "tusukan". Aku lihat di sekeliling Hall ini, lampu dan AC mencoba untuk menenangkanku. Aku putar kembali otakku untuk melihat sebuah ide. Aku cukup dengan berkata " kalau belum puas dengan jawaban saya, bisa langsung menghubungi no. ini mas..langsung sama arsiteknya IAI". Mereka cukup dingin dengan jawabanku, tetapi lumayan menengangkan.

Setelah mereka beranjak meninggalkan stand kami, aku mulai berpikir ternyata aku baru saja memberikan rejeki kepada orang lain dengan mempromosikan arsiteknya IAI. Dengan nada dasar aku belajar dari peristiwa tersebut. Tetap saja semua terasa menyenangkan. Pengalaman ini terasa amat berharga bagiku, seolah mukaku seperti ditampar-tampar mengingat aku mahasiswa semester 1 yang sudah bekerja di salah satu konsultan bangunan masih belum bisa menghadapi calon client. Aku kembali menyenangi dunia arsitek setelah sebelumnya aku ingin menjadi seniman,.hahaha..yah itulah aku yang segera bosan dalam suatu bidang tertentu. Di dunia ini aku pikir masih sangat banyak sekali sesuatu yang menyenangkan sehingga aku mulai cepat bosan dengan aktifitas tertentu. Jika menelisik beberapa waktu lalu aku melihat beberapa mahasiswa ISI, terlihat sangat enjoy dengan style-nya dan cara meraka berkuliah,.aku jadi tertarik mengikuti gaya mereka yang "nyleneh", maklum aku juga berjiwa nyleneh "hehehe....":D

Tapi aku sadar kalau sesuatu yang baru nantinya juga akan menjadi bekas. Seperti sebuah ide yang menginginkan banyak hal yang baru namun nantinya ide lamalah yang akan lebih setia menemani. Sesuatu yang amat bermakna manakala aku mengembara mencari jati diri yang sudah lama aku merindukanya dan kembali menemukan tuannya,..beberapa istilah mungkin aku tulis karena aku menginginkan sesuatu yang lebih dalam setiap langkahku.

"Pertanyaanku di suatu malam 2"



Malam ini aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah mengambil rokok dan membakarnya. Mulutku terasa amat sangat asam, dan aku pikir rokok adalah obatnya. Kuambil rokok di atas meja kamarku lalu kubakar dan mulai menghembuskan asapnya. Kamarku berada di pojok sudut rumah yang sirkulasi udaranya sangat minim, hampir mirip basement yang lembab. Sejenak ku berpikir sahabatku mungkin hanyalah asap, teman setia saat aku terasa penat.

Dalam kesendirianku dari balik jendela kamarku yang kecil kembali aku lihat keluar rumah yang penuh menyimpan banyak pertanyaan. Aku mulai menulis beberapa teka-taki ini. Dalam aku berdo'a kepadaNya aku menanyakan diriku sendiri? Untuk apa manusia beribadah?Apakah kewajiban?apakah sebuah perintah?apakah hanya ikut-ikutan?tetap menjadi sebuah pertanyaan besar.

Jika memang kewajiban, pasti orang akan menjalaninya dengan terpaksa, seperti yang sudah terjadi selama ini. Karena yang kutahu kewajiban akan memaksa kita untuk melakukannya dan itu berarti ibadah adalah salah satu bentuk paksaan. Itu mungkin hanyalah gambaran pemikiranku dan aku yakin ibadah itu bukanlah kewajiban, harusnya adalah suatu kebutuhan. Aku yakin Tuhan gak butuh ini semua. Dia tetap besar dan maha segalanya walaupun tidak ada manusia yang beribadah kepadanya. Seharusnya kita bisa mulai berfikir dari sini. Tetapi ini tetap aku tulis dalam buku teta-teki ku.

Dan untuk apa kita takut kepada Tuhan?bukankah Dia maha pengasih dan penyayang?Mungkin sebagai logika jika dosenku orangnya menyenangkan, periang dan penyayang, pasti aku juga akan senang setiap mata kuliahnya dan bukanya malah takut?Lantas bagaimana kita bisa mulai mencintai Tuhan kalau kita sendiri takut sama Dia. Ceramah pengajian itu tetap terasa aneh jika kita masih beranggapan Tuhan itu menakutkan. Seharusnya aku bisa protes tetapi mungkin teman-teman masih menganggapku "bodoh". Yah,.sikap manusia itu bebas karena kita makhluk yang sempurna, bebas menjadi apa saja. Bahkan Iblis dan malaikatpun tunduk pada Adam.

Malam ini terasa panjang dan mata masih sangat jantan untuk terus melihat. hidup ini memang sudah diatur oleh Tuhan, kita hanya menjadi pemeran saja. Apa yang terjadi itu sudah tersknariokan. Mungkin Iblis perlu dikasihani, karena dia mendapatkan peran yang buruk, ditakdirkan menjadi jahat dan masuk neraka kekal. Dan maka aku bilang Manusia adalah makhluk yang sempurna karena kita punya nafsu dan akal pikiran. Kita bisa menjadi lebih buruk dari Iblis atau lebih baik dari malaikat. Dan pemuka agama, bukanya aku benci kepada mereka tapi kebanyakan mereka bilang " ya Tuhan ampunilah dosaku karena aku ini makhlukmu yang tidak sempurna". Gila apa mereka kurang bersyukur, sudah jelas manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dari segala makhluk ciptaannya?Lantang aku menulis kalimat itu.

Pertanyaanku keluar seiring hembusan rokokku habis. Pertanyaan masih mangantri dalam memory otakku. Dan tanpa sadar aku mulai jawab sendiri salah satu pertanyaanku. Kenapa manusia dilahirkan kalau nantinya akan dimatikan? Mungkin logikanya seperti sebuah pertanyaan "Kenapa makan kalau nantinya akan dibuang lagi sebagai kotoran?", "Kenapa pagi bangun, melakukan aktifitas seharian kalau akhirnya setelah malam tidur lagi?" dan ternyata tanpa dijawabpun aku tahu jawabannya. Jawabannya adalah pertanyaan itu sendiri, dan aku harus menjalaninya sehingga aku bisa paham. Ternyata Tuhan menjawab pertanyaanku melalui perantara ini semua. Pertanyaanku hanyalah sebuah ide yang sepele dibanding denganNya.

Aku sadar pertanyaanku sebenarnya memang patut kutanyakan sebelum aku belajar Agama. Aku tetap menolak semua ajakan teman-temanku sebelum aku tahu jawaban itu. Dan tanpa sadar malampun melompat ke fajar subuh..Semuanya mengayun dalam mimpi yang segera hilang karena derasnya sebuah arti.



~oleh novi maulana~

"Pertanyaanku di suatu malam"

 
Melihat fenomena kematian tubuh manusia, saya jadi berfikir untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia ini kalau hanya untuk mati?untuk apa Manusia lahir kalau hanya untuk dikubur dalam gundukkan tanah yang penuh cacing di dalamnya? Sempat di malam hari aku duduk termenung sendiri memikirkan alam ini dan sang penciptanya, diantara angin yang berhembus dingin di luar rumah di salah satu batu. Semuanya terlintas dalam pemikiranku semua pertanyaan ini. Aku ingin bertanya pada siapa, mungkin hanya kepadaNya saja yang bisa menjawabnya. Akan tetapi Dia tidak memberikan jawaban kepadaku karena mungkin pertanyaanku terlalu berat?

Aku hanya bisa menebak-nebak apakah dulu salah sang Adam ataukah bujukan sang Iblis. Tetapi tetap saja logikaku mengatakan hal lain. Aku bergumam dalam hati dan sekali lagi aku menanyakan kepada angin malam, Untuk apa sebenarnya umat manusia dilahirkan diberikan hidup lalu dimatikan?pertanyaan besar dalam benakku dan masak mereka para ustad hanya bilang wallahualam itu sudah takdir dan kehendakNya? Ugh,..Shit...lantas sebenarnya untuk apa kita diberi akal dan ilmu kalau hanya bisa mengucapkan itu semua adalah takdir Tuhan. Ini gak fair,...!!

Tetap saja aku meneriaki heningnya malam yang aneh. Suasana ini mungkin hanyalah sebuah mimpi yang segera hilang. Biar saja teman-temanku menganggapku bodoh,..sebenarnya hakikat manusia itu memang bodoh. Aku memang percaya bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan aku hanya orang yang ingin jawaban saja dari sang Pencipta itu, dan aku pikir itu sah-sah saja...


~TO BE continued~
[novi maulana]

Tujuan Hidup Kita?


Aku bertanya pada beberapa orang temanku tentang tujuan hidup mereka. Apakah mencari ketenangan, kekayaan, kedamaian, kekuasaan, ketenaran atau apa. Jawaban mereka bervariasi, ada yang menjawab ketenangan, kekayaan, dsb., disertai dengan alasan-alasan tersendiri. Lalu aku bertanya lagi, apakah semua itu sudah dapat diraih / dicapai? Hampir semuanya menjawab BELUM. Kenapa? Karena terkadang atau seolah-olah tujuan hidup itu sudah diraih namun kemudian menghilang lagi. Aku tersenyum. Berarti itu bukanlah tujuan hidup yang engkau cari sesungguhnya. Sebab jika itu tujuan hidupmu, dan anda merasa sudah mendapatkannya maka anda tidak akan pernah kehilangan lagi. Aku bertanya lagi, untuk meraih tujuan hidupmu, apakah engaku tahu jalannya? Jika di ibaratkan ingin menuju kesuatu tempat maka kita terlebih dahulu harus tahu jalan mana yang akan ditempuh. Mereka menjawab dengan gelengan kepala. Lalu mereka balik bertanya kepadaku, apa tujuan hidupku? Aku menjawab dengan senyuman. Kemudian…., aku mulai membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan menghantarkan mereka untuk mengetahui apa sebenarnya tujuan hidup manusia itu. Aku katakan kepada mereka, bahwa Tujuan Hidupku adalah mencari TUHAN. Sebab, jika Kau sudah menemukan Tuhanmu, maka dunia akan berada dalam genggaman tanganmu. Ketenangan, kebahagiaan, kekayaan, dsb akan dengan mudah diraih. Yakinlah.

1. Siapa Tuhanmu? Ada yang menjawab Allah SWT, Yesus, Sidartha Gautama, Sang Hyang Widi, dsb. Aku ulangi pertanyaanku, Siapa Tuhanmu? Bukan Siapa Nama Tuhanmu? Yang kalian jawab adalah nama Tuhan kalian. Mereka terdiam. Aku katakan satu hal kepada mereka, bahwa untuk mengetahui siapa Tuhanmu, maka Engkau harus mengetahui terlebih dahulu siapa dirimu sebenarnya. Seperti dalam sebuah hadist, “Kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal siapa Tuhanmu”.

2. Siapa Dirimu sebenarnya? Mereka semuanya terdiam. Tidak ada satu pun yang tahu siapa diri mereka sebenarnya. Baiklah.., aku akan bertanya beberapa hal tentang kamu. Sehingga akhirnya kalian bisa mengenai diri kalian dan apa hakikat sebenarnya manusia itu.

3. Siapa yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan sehingga kalian bisa berpikir, menganalisa dan mengambil sebuah keputusan? Guru, jawab mereka. Aku menggelengkan kepala. Bukan. Dia-lah Tuhan. Dia yang mengajarkan kepadamu tentang suatu ilmu dan memberikanmu pengetahuan sehingga manusia memiliki kemampuan tertentu. Lalu…, apa hakikat dibalik semua itu. Sadarilah bahwa sesungguhnya manusia itu BODOH. Apakah kalian percaya?? Kalian harus percaya. Tidak sedikit manusia yang mengetahui tentang suatu kebenaran namun tetap melanggarnya dan sebaliknya.Itu menunjukan kebodohan dari manusia.

4. Apa yang kamu bawa ketika lahir dan ketika mati? Tidak ada. BENAR. Ketika lahir anak manusia hanya membawa tangisan. Dan ketika mati dia hanya membawa amal dan kain putih saja. Artinya, hakikat manusia yang kedua adalah MISKIN / FAKIR. Lalu…., pantaskan manusia sombong dengan kekayaan yang dimilikinya? Jawabnya tentu tidak. Semua itu hanyalah titipan. Ingatlah hal itu. Jangan pernah menyayangi sesuatu terlalu berlebihan. Sebab jika suatu saat nanti Dzat yang Maha Memiliki segala sesuatu itu mengambilnya dari kita maka kita tidak akan merasa terlalu kehilangan. Karena kita sudah menyadari bahwa yang kita miliki itu sesungguhnya hanyalah titipan-Nya semata.

5. Siapa yang telah memberimu kekuatan untuk melakukan sesuatu atau bergerak? Dialah Tuhan. Tanpa kuasa dan kehendak-Nya niscaya manusia tidak akan mampu untuk mengedipkan matanya. Lalu…, pantaskah manusia sombong karena merasa telah memiliki kekuasaan dan kekuatan tertentu? Jawabnya tentu saja tidak. Hakikat manusia yang ketiga adalah LEMAH TAK BERDAYA.
6. Pernahkah kamu memberi peringatan atau sekedar nasihat kepada sesamamu? Jika pernah, maka itu bagus. Terlepas apakah orang yang kita nasihati itu mau mendengar atau tidak. Tapi jika belum, maka sesungguhnya kita itu rugi.


Dalam Surat Al-Ashr ayat 3, dijelaskan bahwa manusia dianjurkan untuk saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan dalam kesabaran. Lalu…., apa hakikat manusia yang keempat? Ialah MERUGI, kecuali mereka-mereka yang saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Aku bertanya kepada teman-temanku. Bisakah kalian mencerna dan merenungi penjelasanku tadi. Iya, jawab mereka. Dengan begitu kalian sudah mengetahui apa hakikat manusia sebenarnya. Dan aku berharap kalian bisa menyadari dan merenunginya sehingga kalian tau siapa diri kalian sesungguhnya. Sebab, jika kalian sudah mengetahui hakikat diri kalian sebenarnya maka kalian pun akan mengetahui Siapa Tuhanmu. Dialah Dzat yang telah memberiku Hidup dan Kehidupan ini. Sebagai bahan renungan bagi kita semua. Mudah-mudahan bermanfaat. Amin.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/1681741-tujuan-hidup/#ixzz1eEeTI800