Dalam kesendirianku dari balik jendela kamarku yang kecil kembali aku lihat keluar rumah yang penuh menyimpan banyak pertanyaan. Aku mulai menulis beberapa teka-taki ini. Dalam aku berdo'a kepadaNya aku menanyakan diriku sendiri? Untuk apa manusia beribadah?Apakah kewajiban?apakah sebuah perintah?apakah hanya ikut-ikutan?tetap menjadi sebuah pertanyaan besar.
Jika memang kewajiban, pasti orang akan menjalaninya dengan terpaksa, seperti yang sudah terjadi selama ini. Karena yang kutahu kewajiban akan memaksa kita untuk melakukannya dan itu berarti ibadah adalah salah satu bentuk paksaan. Itu mungkin hanyalah gambaran pemikiranku dan aku yakin ibadah itu bukanlah kewajiban, harusnya adalah suatu kebutuhan. Aku yakin Tuhan gak butuh ini semua. Dia tetap besar dan maha segalanya walaupun tidak ada manusia yang beribadah kepadanya. Seharusnya kita bisa mulai berfikir dari sini. Tetapi ini tetap aku tulis dalam buku teta-teki ku.
Malam ini terasa panjang dan mata masih sangat jantan untuk terus melihat. hidup ini memang sudah diatur oleh Tuhan, kita hanya menjadi pemeran saja. Apa yang terjadi itu sudah tersknariokan. Mungkin Iblis perlu dikasihani, karena dia mendapatkan peran yang buruk, ditakdirkan menjadi jahat dan masuk neraka kekal. Dan maka aku bilang Manusia adalah makhluk yang sempurna karena kita punya nafsu dan akal pikiran. Kita bisa menjadi lebih buruk dari Iblis atau lebih baik dari malaikat. Dan pemuka agama, bukanya aku benci kepada mereka tapi kebanyakan mereka bilang " ya Tuhan ampunilah dosaku karena aku ini makhlukmu yang tidak sempurna". Gila apa mereka kurang bersyukur, sudah jelas manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dari segala makhluk ciptaannya?Lantang aku menulis kalimat itu.
Pertanyaanku keluar seiring hembusan rokokku habis. Pertanyaan masih mangantri dalam memory otakku. Dan tanpa sadar aku mulai jawab sendiri salah satu pertanyaanku. Kenapa manusia dilahirkan kalau nantinya akan dimatikan? Mungkin logikanya seperti sebuah pertanyaan "Kenapa makan kalau nantinya akan dibuang lagi sebagai kotoran?", "Kenapa pagi bangun, melakukan aktifitas seharian kalau akhirnya setelah malam tidur lagi?" dan ternyata tanpa dijawabpun aku tahu jawabannya. Jawabannya adalah pertanyaan itu sendiri, dan aku harus menjalaninya sehingga aku bisa paham. Ternyata Tuhan menjawab pertanyaanku melalui perantara ini semua. Pertanyaanku hanyalah sebuah ide yang sepele dibanding denganNya.
Aku sadar pertanyaanku sebenarnya memang patut kutanyakan sebelum aku belajar Agama. Aku tetap menolak semua ajakan teman-temanku sebelum aku tahu jawaban itu. Dan tanpa sadar malampun melompat ke fajar subuh..Semuanya mengayun dalam mimpi yang segera hilang karena derasnya sebuah arti.
~oleh novi maulana~
0 komentar:
Posting Komentar