Dalam setiap
pribadi manusia pada dasarnya terdapat keinginan untuk menguasai jiwa-jiwa
kebodohan orang lain. Manusia menganggap manusia yang lain lebih bodoh dan
lebih rendah derajatnya dari pada dia. Bahkan jika pada suatu kesempatan
terjadi interaksi antara guru dan murid pun juga demikian. Murid “seolah-olah”
akan melecehkan gurunya dan mengaggap gurunya itu bodoh. Tentu saja sebaliknya
juga demikian, guru selalu mengaggap murudnya bodoh, walaupun tidak
diungkapkan. Sepertinya seperti ada yang salah dalam diri manusia. Seperti sudah
naluri, mungkin ini yang disebut nafsu? Atau ini bujukan dari iblis?
Seperti baru
baru ini yang saya alami waktu sedang duduk duduk santai bersama teman satu
kantorku di jam istirahat kantor. Waktu itu suasana sangat santai dan temanku
memulai pembicaraan ringan.“ Sahruk khan ternyata seorang muslim ya? Tapi kok
istrinya hindu,..? ha,.ha,.ha berarti dia belum mengerti”.Lalu temanku yang
lain yang juga sedang duduk duduk, menanggapinya.” Iya,.ya itu sama saja zina
seumur hidup donk”. Ketika aku mendengar percakapan itu, aku meresponnya dengan
bertanya.” Memangnya ada larangan ya,.menikah berbeda agama?” Pertanyaanku cukup
sederhana hanya sesederhana itu tetapi mereka merespon dengan menasehati aku.
Hal ini yang aku
sadari sebagai bentuk anarki yang ada dalam diri manusia. Kita cenderung
berfikir dan bertindak seenaknya tanpa mengerti dan mau memahami pendapat atau
pikiran orang lain. Padahal jika kita mau membongkar system anarki yang telah
kita bangun selama ini dan menggantinya dengan system toleransi, kita tidak
akan saling melecehkan satu sama lain. Karena pada hakekatnya kita adalah
mahkluk Tuhan yang diciptakan paling sempurna. Maka sesama sempurna haruslah
saling menyempurnakan.
0 komentar:
Posting Komentar