Senin, 18 Maret 2013

Ambigu Yang Subyektif

Suatu subyek yang menyorot ke arahku membuat bermacam persepsi. Seolah akulah tujuan dari masalah yang terjadi. Kotor pemikirannya dan tolol pemikiranku. Lebih seperti sampah yang terinjak terludah. Saat malam aku membaca dari kotak mesin kecil, semua begitu jelas dan ringan. Aku lah subyeknya. Aku subyekmu teman. Semua terlihat aku yang salah dan itu benar tapi bukan pembenaran. Tolong jangan nilai sesuatu sebagai subyek yang jelas, karena aku terlihat bangsat, padahal kau tidak mengenal aku. Malam kedua aku tanyakan pertanyaan yang harus kutanyakan. Dia mulai manjelaskan dengan detail dan detail. Hingga lahir sebuah perspektif bahwa aku memang bangsat. Tuhan,.bantu aku memahami siapa aku,.agar dia tidak menilai aku sebagai pemikiran subyektifnya yang salah.

11:09 
Maret 18, 2013

Kamis, 14 Maret 2013

Renungan Hidup

Pertanda apakah falsafah hidupku? mimpi atau hal yang nyata? tersentak aku mendengar kalimat tanya dan ungkapan sinis dari mulut itu. seperti menusuk perasaan yang tadinya bertahan menjadi tertahan. Lupakan urusan orang lain, kau menganggap orang lain mati tak punya ambisi dan perasaan. Lidah sudah keluar dan tangan mulai menulis dan aku membaca.
Tuhan, dengan sekejap mata aku tergores oleh cacian dan sindirannya,.dan luka ini sangat terasa sakit. Obat apa yang bisa menyembuhkan sakit ini ya Tuhan,.? Aku ingin merubah pandangan yang tidak biasa, tapi dunia memalingkan wajahnya, selalu seperti itu. Apakah aku harus tertunduk, muntah dan mengumpat, sumpah serapah pada otakku? Lidah kupotong agar aku diam dan tidak membalas apa yang dia sindirkan.
Seperti sore tadi, lalu luntas pikiranku terhambat dan tertilang oleh kalimat yang selalu subyektif. Aku benci subyektif aku tidak suka memasang dan menkotak-kotakkan konsep yang dibuat oleh instansi. Dan aku benci instansi yang mencetak lulusan keledai. semua hanyalah ilmu basi, semakin dikonsumsi semakin berpenyakit.
Dia bilang orang sepertiku hanya mencari pangkat? padahal 1 detikpun aku belum bisa mendefinisikan apa itu pangkat, bagaimana aku bisa mencari pangkat? tolol, itu yang aku maksud dengan keledai. hanya bisa makan tapi sangat bodoh.
Hidup itu bukan soal pangkat dan uang. apa kamu lupa dengan konsep bersyukur?manusia punya akal dan pikiran kenapa hanya nafsu yang menjadi tujuan?aku gak tahu lagi harus menulis apa, Ya Tuhan maafkan aku jika selama ini masih menjadi tersesat.

Sabtu, 29 Desember 2012

Mencari Kebebasan


 

Aku merasa dalam diriku menginginkan kebebasan. Rutinitas kerja di tambah kuliah sore plus tugas-tugas yang seabrek,membuat pikiranku stress. Aku menyapa pikiranku dan bertanya,”hey apakah semua ini bermanfaat bagiku?lalu apa manfaatnya bagiku?dengan penasaran aku bertanya seperti itu.

Pulang ke rumah dengan membawa beban berat pikiran ditambah beban tasku yang juga berat,langsung aku masuk kamar. Aku melihat di pojok ruang kamarku aquarium kecil dengan ikan gupy peliharaanku. Ku dekati dan semakin mendekat. Ku beri mereka makanan dan merekapun berebut makanan yang aku kasih. Aku merenung sebentar dan berkata pada pikiranku” Lingkungan mereka hanya sebatas aquarium kecil, tetapi mereka berenang kesana kemari seperti tidak ada beban.”

Aku rebahkan badanku ke kasur dan mulai berhayal tentang kebebasan. Kebebasan itu sebenarnya apa?apakah seperti burung yang terbang ke angkasa?sebenarnya aku ini bebas atau tidak bebas?Padahal aku sering camping ke pantai, namun bebasnya hati ini hanya terasa sementara. Lalu apa yang membuat kebebasan hakiki hati ini?

Kata salah satu temanku, Tuhanlah yang membolak balikkan perasaan hati manusia. Tapi pikirku tidak ingin menyalahkan Tuhan. Kebebasan mungkin adalah formula yang harus aku pecahkan sendiri. Aku bertanya-tanya dengan pikiranku  tentang konsep kebebasan. Semakin aku cari kebebasan, semakin aku menderita karena tidak menemukan kebebasan.

Sementara tugas kuliah semakin menumpuk dan aku semakin malas untuk mengerjakanya. Malam hari aku putuskan untuk tidur dan bangun pagi-pagi untuk mengerjakan tugas kuliah,.namun keesokan harinya malah aku bangun jam 10 siang. Hal tersebut berlangsung berulang-ulang kali. Aku semakin terpuruk dalam tugas-tugas kuliah dan tugas kantor.

Aku kembali pulang ke rumah dan langsung masuk ke dalam kamar. Kembali aku melihat ikan gupyku yang berenang di dalam aquarium miniku. Aku kembali merenung dan tiba-tiba seperti ada yang menjawab penasaranku tentang konsep kebebasan. Seperti ikanku yang hanya sebatas aquarium kecil, tetapi mereka berenang kesana kemari seperti tidak ada beban. Ternyata dicari kesana kemari, kebebasan itu hanya ada dalam hati dan pikiran saja. Semakin kita bisa membebaskan hati dan pikiran, dimanapun kita bereda maka akan terasa tidak ada beban.mungkin itu yang namanya ikhlas.

 

Rabu, 12 Desember 2012

Menyempurnakan manusia


Dalam setiap pribadi manusia pada dasarnya terdapat keinginan untuk menguasai jiwa-jiwa kebodohan orang lain. Manusia menganggap manusia yang lain lebih bodoh dan lebih rendah derajatnya dari pada dia. Bahkan jika pada suatu kesempatan terjadi interaksi antara guru dan murid pun juga demikian. Murid “seolah-olah” akan melecehkan gurunya dan mengaggap gurunya itu bodoh. Tentu saja sebaliknya juga demikian, guru selalu mengaggap murudnya bodoh, walaupun tidak diungkapkan. Sepertinya seperti ada yang salah dalam diri manusia. Seperti sudah naluri, mungkin ini yang disebut nafsu? Atau ini bujukan dari iblis?


Seperti baru baru ini yang saya alami waktu sedang duduk duduk santai bersama teman satu kantorku di jam istirahat kantor. Waktu itu suasana sangat santai dan temanku memulai pembicaraan ringan.“ Sahruk khan ternyata seorang muslim ya? Tapi kok istrinya hindu,..? ha,.ha,.ha berarti dia belum mengerti”.Lalu temanku yang lain yang juga sedang duduk duduk, menanggapinya.” Iya,.ya itu sama saja zina seumur hidup donk”. Ketika aku mendengar percakapan itu, aku meresponnya dengan bertanya.” Memangnya ada larangan ya,.menikah berbeda agama?” Pertanyaanku cukup sederhana hanya sesederhana itu tetapi mereka merespon dengan menasehati aku.

Ya mungkin wajar aku bertanya, karena memang aku belum tahu dan mungkin aku masih terbawa logika, laki-laki dan wanita ciptaan Tuhan kenapa tidak boleh menikah? Toh sama-sama mahkluk-Nya, yang tidak boleh justru menikah dengan selain manusia. Aku hanya berfikir kalau itu semua sudah ada jalannya masing-masing. Akan tetapi temanku menilai pendapatku sangat dangkal.

 
Hal ini yang aku sadari sebagai bentuk anarki yang ada dalam diri manusia. Kita cenderung berfikir dan bertindak seenaknya tanpa mengerti dan mau memahami pendapat atau pikiran orang lain. Padahal jika kita mau membongkar system anarki yang telah kita bangun selama ini dan menggantinya dengan system toleransi, kita tidak akan saling melecehkan satu sama lain. Karena pada hakekatnya kita adalah mahkluk Tuhan yang diciptakan paling sempurna. Maka sesama sempurna haruslah saling menyempurnakan.

 

Sedikit KeSoktahuanku di Pameran

Suatu kehormatan aku bisa menghardiri pameran indobuildtech di JEC. Saat melihat kepenatan kuliah yang tidak cukup puas dengan tugasnya, meraung keras menunggu untuk dikerjakan, akhirnya aku bisa mengikuti pameran tersebut dan diberi mahkota kehormatan untuk menjaga salah satu standnya. Kebetulan aku menjaga stand IAI ( ikatan arsitektur indonesia ) bekerja sama dengan PAMIY ( paguyupan arsitek muda indonesia yogjakarta ). Beribu manusia menghanyutkan dirinya membentuk sinergi yang berpengaruh dalam sirkulasi energi bertumpah meruang di beberapa stand.

Ada beberapa orang datang dan berkonsultasi di klinik arsitektur stand kami. berbagai pertanyaan terlontarkan terkait tentang persoalan arsitektur. Dan aku harus menjawab apa? karena aku hanya mahasiswa semester 1?!Tapi dengan kesoktahuanku dan sedikit kesombongan yang harus kumiliki aku jawab semua pertanyaan itu.Terkadang sikap sombong harus dimiliki oleh manusia untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Walaupun nantinya muncul berbagai masalah di jalan. Tapi, hey,..bukankah Tuhan memberikan ujian kepada hambanya sesuai porsinya, dan tidak akan menguji di luar batas kemampuanya? paling tidak itu yang aku pikirkan pada waktu saat itu.

Kata-kata mereka yang bingung dengan jawabanku, seperti sebuah mesin jahat yang tajam menikam diriku. Dengan sekejab tubuhku sudah penuh dengan luka "tusukan". Aku lihat di sekeliling Hall ini, lampu dan AC mencoba untuk menenangkanku. Aku putar kembali otakku untuk melihat sebuah ide. Aku cukup dengan berkata " kalau belum puas dengan jawaban saya, bisa langsung menghubungi no. ini mas..langsung sama arsiteknya IAI". Mereka cukup dingin dengan jawabanku, tetapi lumayan menengangkan.

Setelah mereka beranjak meninggalkan stand kami, aku mulai berpikir ternyata aku baru saja memberikan rejeki kepada orang lain dengan mempromosikan arsiteknya IAI. Dengan nada dasar aku belajar dari peristiwa tersebut. Tetap saja semua terasa menyenangkan. Pengalaman ini terasa amat berharga bagiku, seolah mukaku seperti ditampar-tampar mengingat aku mahasiswa semester 1 yang sudah bekerja di salah satu konsultan bangunan masih belum bisa menghadapi calon client. Aku kembali menyenangi dunia arsitek setelah sebelumnya aku ingin menjadi seniman,.hahaha..yah itulah aku yang segera bosan dalam suatu bidang tertentu. Di dunia ini aku pikir masih sangat banyak sekali sesuatu yang menyenangkan sehingga aku mulai cepat bosan dengan aktifitas tertentu. Jika menelisik beberapa waktu lalu aku melihat beberapa mahasiswa ISI, terlihat sangat enjoy dengan style-nya dan cara meraka berkuliah,.aku jadi tertarik mengikuti gaya mereka yang "nyleneh", maklum aku juga berjiwa nyleneh "hehehe....":D

Tapi aku sadar kalau sesuatu yang baru nantinya juga akan menjadi bekas. Seperti sebuah ide yang menginginkan banyak hal yang baru namun nantinya ide lamalah yang akan lebih setia menemani. Sesuatu yang amat bermakna manakala aku mengembara mencari jati diri yang sudah lama aku merindukanya dan kembali menemukan tuannya,..beberapa istilah mungkin aku tulis karena aku menginginkan sesuatu yang lebih dalam setiap langkahku.

"Pertanyaanku di suatu malam 2"



Malam ini aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah mengambil rokok dan membakarnya. Mulutku terasa amat sangat asam, dan aku pikir rokok adalah obatnya. Kuambil rokok di atas meja kamarku lalu kubakar dan mulai menghembuskan asapnya. Kamarku berada di pojok sudut rumah yang sirkulasi udaranya sangat minim, hampir mirip basement yang lembab. Sejenak ku berpikir sahabatku mungkin hanyalah asap, teman setia saat aku terasa penat.

Dalam kesendirianku dari balik jendela kamarku yang kecil kembali aku lihat keluar rumah yang penuh menyimpan banyak pertanyaan. Aku mulai menulis beberapa teka-taki ini. Dalam aku berdo'a kepadaNya aku menanyakan diriku sendiri? Untuk apa manusia beribadah?Apakah kewajiban?apakah sebuah perintah?apakah hanya ikut-ikutan?tetap menjadi sebuah pertanyaan besar.

Jika memang kewajiban, pasti orang akan menjalaninya dengan terpaksa, seperti yang sudah terjadi selama ini. Karena yang kutahu kewajiban akan memaksa kita untuk melakukannya dan itu berarti ibadah adalah salah satu bentuk paksaan. Itu mungkin hanyalah gambaran pemikiranku dan aku yakin ibadah itu bukanlah kewajiban, harusnya adalah suatu kebutuhan. Aku yakin Tuhan gak butuh ini semua. Dia tetap besar dan maha segalanya walaupun tidak ada manusia yang beribadah kepadanya. Seharusnya kita bisa mulai berfikir dari sini. Tetapi ini tetap aku tulis dalam buku teta-teki ku.

Dan untuk apa kita takut kepada Tuhan?bukankah Dia maha pengasih dan penyayang?Mungkin sebagai logika jika dosenku orangnya menyenangkan, periang dan penyayang, pasti aku juga akan senang setiap mata kuliahnya dan bukanya malah takut?Lantas bagaimana kita bisa mulai mencintai Tuhan kalau kita sendiri takut sama Dia. Ceramah pengajian itu tetap terasa aneh jika kita masih beranggapan Tuhan itu menakutkan. Seharusnya aku bisa protes tetapi mungkin teman-teman masih menganggapku "bodoh". Yah,.sikap manusia itu bebas karena kita makhluk yang sempurna, bebas menjadi apa saja. Bahkan Iblis dan malaikatpun tunduk pada Adam.

Malam ini terasa panjang dan mata masih sangat jantan untuk terus melihat. hidup ini memang sudah diatur oleh Tuhan, kita hanya menjadi pemeran saja. Apa yang terjadi itu sudah tersknariokan. Mungkin Iblis perlu dikasihani, karena dia mendapatkan peran yang buruk, ditakdirkan menjadi jahat dan masuk neraka kekal. Dan maka aku bilang Manusia adalah makhluk yang sempurna karena kita punya nafsu dan akal pikiran. Kita bisa menjadi lebih buruk dari Iblis atau lebih baik dari malaikat. Dan pemuka agama, bukanya aku benci kepada mereka tapi kebanyakan mereka bilang " ya Tuhan ampunilah dosaku karena aku ini makhlukmu yang tidak sempurna". Gila apa mereka kurang bersyukur, sudah jelas manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dari segala makhluk ciptaannya?Lantang aku menulis kalimat itu.

Pertanyaanku keluar seiring hembusan rokokku habis. Pertanyaan masih mangantri dalam memory otakku. Dan tanpa sadar aku mulai jawab sendiri salah satu pertanyaanku. Kenapa manusia dilahirkan kalau nantinya akan dimatikan? Mungkin logikanya seperti sebuah pertanyaan "Kenapa makan kalau nantinya akan dibuang lagi sebagai kotoran?", "Kenapa pagi bangun, melakukan aktifitas seharian kalau akhirnya setelah malam tidur lagi?" dan ternyata tanpa dijawabpun aku tahu jawabannya. Jawabannya adalah pertanyaan itu sendiri, dan aku harus menjalaninya sehingga aku bisa paham. Ternyata Tuhan menjawab pertanyaanku melalui perantara ini semua. Pertanyaanku hanyalah sebuah ide yang sepele dibanding denganNya.

Aku sadar pertanyaanku sebenarnya memang patut kutanyakan sebelum aku belajar Agama. Aku tetap menolak semua ajakan teman-temanku sebelum aku tahu jawaban itu. Dan tanpa sadar malampun melompat ke fajar subuh..Semuanya mengayun dalam mimpi yang segera hilang karena derasnya sebuah arti.



~oleh novi maulana~

"Pertanyaanku di suatu malam"

 
Melihat fenomena kematian tubuh manusia, saya jadi berfikir untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia ini kalau hanya untuk mati?untuk apa Manusia lahir kalau hanya untuk dikubur dalam gundukkan tanah yang penuh cacing di dalamnya? Sempat di malam hari aku duduk termenung sendiri memikirkan alam ini dan sang penciptanya, diantara angin yang berhembus dingin di luar rumah di salah satu batu. Semuanya terlintas dalam pemikiranku semua pertanyaan ini. Aku ingin bertanya pada siapa, mungkin hanya kepadaNya saja yang bisa menjawabnya. Akan tetapi Dia tidak memberikan jawaban kepadaku karena mungkin pertanyaanku terlalu berat?

Aku hanya bisa menebak-nebak apakah dulu salah sang Adam ataukah bujukan sang Iblis. Tetapi tetap saja logikaku mengatakan hal lain. Aku bergumam dalam hati dan sekali lagi aku menanyakan kepada angin malam, Untuk apa sebenarnya umat manusia dilahirkan diberikan hidup lalu dimatikan?pertanyaan besar dalam benakku dan masak mereka para ustad hanya bilang wallahualam itu sudah takdir dan kehendakNya? Ugh,..Shit...lantas sebenarnya untuk apa kita diberi akal dan ilmu kalau hanya bisa mengucapkan itu semua adalah takdir Tuhan. Ini gak fair,...!!

Tetap saja aku meneriaki heningnya malam yang aneh. Suasana ini mungkin hanyalah sebuah mimpi yang segera hilang. Biar saja teman-temanku menganggapku bodoh,..sebenarnya hakikat manusia itu memang bodoh. Aku memang percaya bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan aku hanya orang yang ingin jawaban saja dari sang Pencipta itu, dan aku pikir itu sah-sah saja...


~TO BE continued~
[novi maulana]